Riset Doktor Pariwisata Soroti Masa Depan Hotel Lombok Berkelanjutan
- 08 Agt 2026 21:27 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Barat — Transformasi digital dan keberlanjutan mulai menjadi dua kekuatan penting dalam mendorong kinerja bisnis perhotelan di Lombok. Persoalan tersebut menjadi sorotan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Transformasi Digital dan Sustainabilitas dalam Penciptaan Kinerja Bisnis Perhotelan di Lombok” yang digelar di Ballroom Hotel Holiday Resort Lombok, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari penelitian disertasi Program Doktor (S3) Bisnis Pariwisata Politeknik Negeri Bali. Forum itu mempertemukan unsur akademisi, pelaku industri perhotelan, pemerintah, karyawan, masyarakat, serta media untuk menguji sekaligus memvalidasi hasil penelitian yang dilakukan Pak Ketut Jaya, mahasiswa doktor terapan bidang pariwisata.
Koordinator Program Doktor (S3) Bisnis Pariwisata Politeknik Negeri Bali, Prof. Dr. I Putu Astawa, SE., MM, menegaskan bahwa proses akademik dalam penelitian doktoral tidak berhenti pada temuan di atas kertas. Hasil riset harus mendapatkan pengujian dari para pemangku kepentingan yang bersentuhan langsung dengan persoalan di lapangan.
“Nilai-nilai atau hasil yang diperoleh selama riset itu harus didukung dan divalidasi stakeholder. Tadi industri hadir, pemerintah hadir, karyawan hadir, dan media juga hadir. Saya pikir ini penting bagi dunia pendidikan vokasi, khususnya doktor terapan,” ujarnya.
Menurut Astawa, tema transformasi digital yang diangkat dalam penelitian tersebut memiliki relevansi kuat dengan perkembangan industri pariwisata Lombok. Digitalisasi tidak cukup dimaknai sebagai penggunaan teknologi, tetapi harus mampu memberikan dampak terhadap tata kelola perusahaan, pelayanan wisatawan, hingga penciptaan kinerja bisnis yang berkelanjutan.
Ia juga mengingatkan industri pariwisata agar tidak menjadikan isu keberlanjutan sebatas strategi pemasaran. Klaim ramah lingkungan tanpa penerapan nyata justru berpotensi melahirkan praktik greenwashing, yakni pencitraan seolah-olah telah menjalankan prinsip keberlanjutan, padahal implementasinya belum memadai.
“Hal-hal seperti itu sekarang banyak disalahartikan dan digunakan sebagai branding, padahal sesungguhnya belum melakukan keberlanjutan. Itu yang kita hindari,” katanya menegaskan.
Dalam konteks penelitian, transformasi digital dinilai memiliki keterkaitan dengan dua ranah penting, yakni internal dan eksternal perusahaan. Pada sisi internal, digitalisasi dan inovasi dapat memperkuat pengelolaan organisasi serta pelayanan. Sementara dari sisi eksternal, keberhasilan bisnis pariwisata turut ditentukan oleh hubungan dengan pemerintah, masyarakat, lingkungan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Astawa menilai penelitian Ketut Jaya mampu menghubungkan kedua dimensi tersebut melalui praktik nyata di lingkungan hotel. Salah satu contoh yang menjadi perhatian adalah penerapan konsep eco-farm di Holiday Resort Lombok sebagai bagian dari upaya mengaktualisasikan gagasan keberlanjutan dalam aktivitas operasional.
“Pak Ketut memberikan pemaknaan yang dalam terhadap transformasi digital. Peranan pemerintah, masyarakat, dan stakeholder benar-benar tergabung dalam membangun kinerja organisasi,” ucapnya.
Temuan penelitian tersebut kemudian diuji melalui tanggapan para peserta FGD. Masukan dari unsur industri, pemerintah, karyawan, dan stakeholder lainnya dinilai memberikan penguatan terhadap hasil riset yang sebelumnya diperoleh di lapangan.
Salah satu indikator yang disoroti adalah tingkat pemenuhan aspek yang diteliti di Holiday Resort Lombok yang disebut mencapai sekitar 96 persen. Selain itu, tanggapan tamu juga menunjukkan sejumlah aspek yang menjadi daya tarik, mulai dari ketenangan lingkungan hingga kesempatan memperoleh pengetahuan mengenai praktik ekowisata.
Konsep tersebut dinilai memperlihatkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar narasi, melainkan harus diwujudkan melalui tindakan konkret. Astawa bahkan menyinggung fenomena NATO (No Action Talk Only) sebagai gambaran ketika seseorang banyak berbicara tetapi minim tindakan.
Menurutnya, keberlanjutan akan sulit dicapai apabila hanya berhenti pada diskusi, komentar, maupun klaim. Karena itu, praktik nyata di tingkat perusahaan menjadi bagian penting untuk membuktikan bahwa gagasan keberlanjutan benar-benar diterapkan.
“Banyak orang belajar, tetapi aktualisasinya tidak ada. Pak Ketut justru sosok GM yang memberikan pemaknaan dua dimensi dan mengakselerasikannya dengan baik, baik dimensi internal perusahaan maupun eksternal,” katanya.
Meski demikian, Astawa menilai masih terdapat ruang penguatan, terutama dalam melihat peran pemerintah dalam mendukung ekosistem pariwisata berkelanjutan di Lombok. Pemerintah, menurut dia, tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan internal yang terjadi di sebuah perusahaan atau hotel.
Namun, pemerintah tetap memiliki posisi strategis dalam persoalan eksternal, termasuk membangun hubungan dengan masyarakat, menciptakan ekosistem usaha yang kondusif, serta menangani berbagai persoalan yang berkaitan dengan keberlanjutan destinasi.
“Pemerintah memang tidak mungkin menjawab masalah internal perusahaan. Tetapi kalau menyangkut hubungan eksternal, masyarakat, dan pembangunan keberlanjutan dengan pihak-pihak terkait, pemerintah pasti hadir,” katanya.
Ia menilai persepsi publik terhadap kehadiran pemerintah juga perlu ditempatkan secara proporsional. Sejumlah persoalan seperti pengelolaan sampah dan transportasi memang masih menjadi tantangan yang mendapat perhatian serius dalam pembangunan pariwisata.
Persoalan tersebut tidak hanya terjadi di Lombok, tetapi menjadi perhatian banyak pemerintah daerah di Indonesia karena berkaitan langsung dengan keberlanjutan lingkungan dan kualitas kehidupan generasi mendatang.
Di sisi lain, praktik yang ditunjukkan Holiday Resort Lombok dinilai memberikan contoh bahwa keberlanjutan dapat berjalan beriringan dengan bisnis perhotelan. Kepedulian terhadap aspek lingkungan dan sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman wisatawan sekaligus strategi menjaga daya saing industri.
“Di Holiday Resort saya melihat budaya dan kepedulian sosialnya tinggi,” katanya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....