Bandara Lombok Gelar Simulasi Darurat Pesawat untuk Perkuat Kesiapsiagaan
- 08 Agt 2026 17:45 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Tengah – Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, menggelar latihan penanganan keadaan darurat untuk meningkatkan kesiapan personel menghadapi kecelakaan pesawat. Latihan bertajuk Airport Emergency Modular Exercise itu digelar Unit Airport Rescue and Fire Fighting (ARFF) BIZAM.
General Manager BIZAM Aidhil Philip Julian mengatakan, latihan tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh personel dan instansi terkait memahami peran masing-masing ketika terjadi kondisi darurat di bandara.
"Keselamatan merupakan prioritas utama dalam operasional bandar udara. Latihan ini untuk memastikan seluruh personel dan stakeholder memiliki kesiapan dan kemampuan merespons keadaan darurat secara cepat, tepat, dan sesuai prosedur," kata Aidhil, Sabtu 8 Agustus 2026.
Menurut dia, penanganan keadaan darurat membutuhkan koordinasi seluruh unsur yang terlibat agar dapat berjalan efektif.
Dalam simulasi tersebut, pesawat Sekotong Air dengan nomor penerbangan SKT-218 rute Manado-Lombok menggunakan Boeing 737-800 mengalami gangguan sistem hidrolik saat melakukan pendekatan menuju BIZAM.
Kondisi itu membuat Air Traffic Control (ATC) menetapkan status Full Emergency atau Siaga II.
Situasi kemudian meningkat menjadi Siaga III setelah pesawat mengalami runway excursion atau keluar dari landasan pacu saat mendarat.
Latihan difokuskan pada tiga tahapan utama, yakni Raising the Alarm, Rendezvous Point (RVP), dan Medical Services.
Ketiga modul tersebut digunakan untuk menguji komunikasi, koordinasi antarinstansi, mobilisasi sumber daya, hingga penanganan korban sesuai prosedur dalam Airport Emergency Plan (AEP).
Sejumlah unsur yang tergabung dalam Airport Emergency Committee turut dilibatkan dalam latihan tersebut. Di antaranya AirNav Indonesia Cabang Lombok, Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Mataram, serta Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).
Latihan juga dievaluasi oleh Tim Evaluasi Terpadu yang terdiri dari PT Angkasa Pura Indonesia, AirNav Indonesia, dan Balai Kekarantinaan Kesehatan.
Evaluasi dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai hal yang perlu diperbaiki dalam sistem penanganan keadaan darurat di bandara.
Aidhil mengatakan, latihan semacam itu akan terus diperkuat untuk membangun budaya keselamatan sekaligus meningkatkan kemampuan personel.
"Melalui kegiatan ini, kami ingin terus memperkuat budaya keselamatan, meningkatkan kompetensi personel, dan mempererat sinergi antar-stakeholder. Dengan kesiapsiagaan yang baik, risiko dalam keadaan darurat dapat diminimalkan dan perlindungan terhadap pengguna jasa dapat ditingkatkan," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....