48 MUA Adu Kreativitas, Aruna Senggigi Angkat Pakem Pengantin NTB

  • 05 Agt 2026 15:37 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat — Seni tata rias pengantin khas Nusa Tenggara Barat (NTB) mendapat panggung khusus di tengah geliat industri kreatif dan pariwisata. Sebanyak 48 make up artist (MUA) dari berbagai daerah di NTB beradu kreativitas dalam Aruna Makeup Artist Competition 2026 yang digelar Aruna Senggigi Resort & Convention, Selasa 4 Agustus 2026.

Kompetisi tersebut menjadi bagian dari rangkaian 10th Anniversary Aruna Senggigi Resort & Convention. Namun, ajang ini tidak sekadar mempertandingkan kemampuan merias wajah. Tradisi, pakem budaya, kreativitas, dan tuntutan inovasi dipertemukan dalam satu panggung untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif NTB.

Berlangsung di Grand Ballroom Aruna Senggigi Resort & Convention, kompetisi terbagi dalam dua kategori. Sebanyak 26 peserta mengikuti kategori Tata Rias Pengantin NTB Inovasi & Modifikasi, sedangkan 22 peserta lainnya berlaga pada kategori Tata Rias Pengantin Muslimah/Hijab.

Para peserta ditantang menghadirkan karya tata rias yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu mempertahankan karakter budaya NTB. Teknik profesional, kreativitas, inovasi, kostum, hingga kemampuan menerjemahkan konsep menjadi penampilan utuh menjadi bagian penting dalam kompetisi.

General Manager Aruna Senggigi Resort & Convention, Yeyen Heryawan, mengatakan perayaan satu dekade Aruna sengaja diarahkan agar tidak berhenti pada seremoni. Momentum tersebut ingin dimanfaatkan untuk menciptakan ruang kolaborasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif.

“Perayaan 10th Anniversary Aruna Senggigi Resort & Convention kami rancang bukan hanya sebagai selebrasi perjalanan resort, tetapi juga sebagai momentum untuk memberikan kontribusi bagi daerah,” ujar Yeyen.

Menurutnya, kompetisi tersebut menjadi ruang bagi MUA untuk meningkatkan kemampuan sekaligus memperluas jejaring profesional. Di saat yang sama, kekayaan budaya NTB diperkenalkan melalui medium seni tata rias pengantin.

“Melalui Aruna Makeup Artist Competition 2026, kami ingin menghadirkan wadah bagi para make up artist untuk mengembangkan kompetensi, memperluas jejaring profesional, sekaligus mengangkat kekayaan budaya NTB melalui seni tata rias,” katanya menegaskan.

Upaya menjaga akar budaya juga terlihat dari rangkaian edukasi sebelum kompetisi. Peserta mengikuti seminar dan workshop bersama LT PRO serta demonstrasi tata rambut pengantin tradisional NTB yang digelar bersama HARPI Melati NTB.

Materi tersebut tidak hanya mengajarkan teknik. Para peserta juga diperkenalkan dengan pakem dan filosofi yang melekat pada tata rambut pengantin tradisional NTB.

Yeyen mengatakan langkah itu penting agar perkembangan tren tata rias tidak membuat generasi MUA kehilangan pemahaman terhadap identitas budaya daerah.

“Kami juga sengaja menghadirkan demonstrasi tata rambut pengantin tradisional bersama HARPI Melati NTB agar para peserta tidak hanya mengikuti perkembangan tren, tetapi juga memahami pakem dan nilai budaya yang menjadi identitas tata rias pengantin NTB,” ucapnya.

Ia berharap kolaborasi antara pelaku industri kreatif, komunitas, dan dunia pariwisata tersebut dapat terus berlanjut dan berkembang menjadi agenda yang dinantikan masyarakat setiap tahun.

Rangkaian perayaan satu dekade Aruna Senggigi juga belum berakhir. Berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat, komunitas, pelaku UMKM, dan industri kreatif dijadwalkan berlangsung hingga November 2026.

Mewakili Gubernur NTB, Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi NTB Lalu Mohammad Faozal memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan kompetisi tersebut.

Menurutnya, kegiatan yang mempertemukan sektor pariwisata dengan ekonomi kreatif berbasis budaya dapat menjadi salah satu cara memperluas ruang tumbuh pelaku kreatif daerah.

“Pemerintah Provinsi NTB mengapresiasi inisiatif Aruna Senggigi Resort & Convention yang menghadirkan ruang bagi pelaku industri kreatif untuk terus berkembang,” ujar Faozal.

Ia menilai tata rias pengantin memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar persoalan estetika. Di dalamnya terdapat identitas, filosofi, dan pakem budaya yang perlu dipahami oleh generasi penerus.

“Tata rias, khususnya tata rias pengantin, bukan sekadar tentang estetika, tetapi juga merupakan bagian dari identitas budaya yang memiliki filosofi dan pakem yang perlu dijaga,” katanya menegaskan.

Karena itu, edukasi mengenai tata rambut dan tata rias tradisional dinilai penting agar warisan budaya tidak hanya dipertontonkan, tetapi benar-benar dipahami dan diwariskan.

Faozal juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan pelaku ekonomi kreatif. Kolaborasi lintas sektor tersebut diyakini mampu memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus memperluas pengenalan budaya lokal.

Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lombok Barat Agus Gunawan melihat kompetisi tersebut dari perspektif yang lebih luas.

Menurutnya, kegiatan semacam itu dapat memberikan dua manfaat sekaligus bagi daerah, yakni memperkuat promosi destinasi sekaligus membuka ruang pertumbuhan bagi pelaku ekonomi kreatif.

“Kegiatan ini menunjukkan bagaimana sektor pariwisata mampu menjadi penggerak bagi ekonomi kreatif,” ucap Agus.

Ia menilai kehadiran kompetisi berkualitas di Lombok Barat juga memberi kesempatan kepada MUA lokal untuk menunjukkan kemampuan, membangun koneksi profesional, dan meningkatkan daya saing.

“Selain memperkenalkan Lombok Barat melalui sebuah event berkualitas, kompetisi ini juga membuka peluang bagi para make up artist lokal untuk menunjukkan kompetensinya, membangun jejaring, dan meningkatkan daya saing,” katanya.

Agus menyebut pertumbuhan komunitas dan sanggar tata rias di berbagai wilayah Lombok Barat menjadi indikator bahwa subsektor tersebut mempunyai potensi yang masih dapat dikembangkan.

“Semakin banyak ruang seperti ini, semakin besar pula dampak positif yang dirasakan masyarakat,” katanya menegaskan.

Untuk menjaga kualitas kompetisi, Aruna Makeup Artist Competition 2026 menghadirkan dewan juri profesional yang terdiri dari Ina Pariska, Surya SHEE Cantik Salon, dan Izi Goink.

Penilaian peserta mencakup sejumlah aspek, mulai dari keselarasan konsep, teknik tata rias, kebersihan dan kerapian, kesesuaian tema serta kostum, kreativitas, inovasi, hingga kemampuan mengelola waktu.

Kemampuan peserta dalam menampilkan model secara menyeluruh juga menjadi bagian dari penilaian.

Malam puncak kompetisi berlangsung meriah dengan tari penyambutan dan sambutan dari jajaran pemerintah daerah serta manajemen resort. Nuansa seni kemudian diperkuat melalui penampilan spesial Surya SHEE Cantik Salon, kolaborasi bersama HARPI Melati NTB dan Izi Goink.

Pertunjukan Opening Cape Parade, Tari Tanam Tenun, dan Show Collaboration menjadi bagian dari rangkaian acara sebelum ditutup dengan parade model, pengumuman juara, serta penyerahan penghargaan.

Melalui kompetisi tersebut, Aruna Senggigi Resort & Convention berupaya menempatkan sektor hospitality bukan hanya sebagai bagian dari industri pariwisata, tetapi juga sebagai ruang bertemunya budaya, kreativitas, dan pemberdayaan masyarakat.

Dengan mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan pekerja kreatif, ajang tersebut diharapkan mampu melahirkan talenta baru sekaligus memperkuat citra Lombok sebagai destinasi yang memiliki kekayaan budaya dan kreativitas.

“Harapan kami, kolaborasi seperti ini dapat terus berkembang dan menjadi agenda yang dinantikan setiap tahunnya,” ujar Yeyen mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....