Kemarau Tiba, Distan Lombok Barat Pastikan Petani Tetap Produktif
- 04 Agt 2026 15:57 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Barat — Musim kemarau mulai menjadi perhatian bagi sektor pertanian di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun hingga kini, pemerintah daerah memastikan belum menerima laporan mengenai gagal panen akibat kekeringan dari petani.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Barat, Lalu Muhammad Hakam, mengatakan kondisi tanaman pada musim tanam kedua (MT II) sejauh ini masih relatif terkendali. Pemerintah pun optimistis hasil pertanian pada periode tersebut dapat dipanen secara normal.
“Untuk saat ini kami belum menerima laporan dari para petani terkait dampak kekeringan. Kami yakin masa tanam kedua ini insyaallah masih berjalan normal sampai berakhirnya masa panen,” ujar Hakam, Selasa 4 Agustus 2026.
Meski demikian, Dinas Pertanian Lombok Barat tidak ingin mengabaikan potensi ancaman kekeringan yang dapat meningkat seiring berlangsungnya musim kemarau.
Menurut Hakam, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi, salah satunya melalui program irigasi perpompaan (irpom) yang menyasar wilayah-wilayah yang telah dipetakan sebagai daerah rawan terdampak kekeringan.
Program tersebut dinilai menjadi salah satu bentuk intervensi pemerintah untuk menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian, terutama di kawasan yang tidak sepenuhnya memperoleh dukungan jaringan irigasi teknis.
“Program irigasi perpompaan ini diarahkan ke daerah-daerah yang sudah kami petakan rawan terdampak saat musim kemarau,” katanya menegaskan.
Hakam menyebut dampak positif program serupa yang dijalankan pada tahun sebelumnya mulai dirasakan petani. Salah satu indikatornya terlihat dari perubahan pola tanam di sejumlah wilayah yang sebelumnya hanya mampu melakukan satu kali tanam dalam setahun.
Kini, beberapa kawasan tersebut mulai memiliki kemampuan meningkatkan frekuensi tanam lebih dari sekali.
“Dampak positif dari program yang dilaksanakan tahun lalu sudah mulai terasa, terutama di daerah yang rawan terdampak kekeringan. Ada peningkatan pola tanam, dari yang sebelumnya hanya satu kali masa tanam menjadi lebih dari satu kali,” ucapnya.
Namun, intervensi pemerintah pada 2025 belum mampu menjangkau seluruh wilayah yang membutuhkan. Karena itu, pada 2026 pemerintah pusat kembali mengalokasikan program irigasi perpompaan sekaligus optimasi lahan untuk kawasan yang belum memperoleh dukungan pada tahun sebelumnya.
Dinas Pertanian Lombok Barat masih akan mengevaluasi sejauh mana program tersebut mampu memperkuat ketahanan pertanian menghadapi musim kemarau. Dampak yang lebih terukur diperkirakan baru dapat terlihat setelah pelaksanaan program berjalan dan memasuki periode evaluasi berikutnya.
“Kami berharap dan optimistis dampak positif dari intervensi pemerintah ini akan semakin dirasakan para petani pada tahun-tahun berikutnya,” katanya.
Di sisi lain, Hakam menilai petani Lombok Barat sebenarnya telah memiliki kemampuan membaca perubahan musim dan menyesuaikan pola budidaya dengan kondisi alam. Hal itu terlihat dari keputusan petani untuk tidak memaksakan penanaman padi di seluruh wilayah ketika memasuki musim tanam ketiga (MT III).
Pada kawasan tertentu, petani mulai mengalihkan komoditas ke tanaman hortikultura maupun palawija yang dinilai lebih sesuai dengan kondisi ketersediaan air.
“Tidak mesti semua harus ditanami padi. Untuk MT III, petani dapat memilih komoditas hortikultura maupun palawija, terutama di luar kawasan yang mendapatkan dukungan irigasi teknis,” ujarnya.
Menurut Hakam, wilayah yang menjadi sasaran penguatan irigasi perpompaan telah dipetakan oleh pemerintah daerah. Sejumlah lokasi yang masuk perhatian antara lain Desa Giri Sasak di Kecamatan Kuripan, Desa Banyu Urip, Tempos dan Giri Tembesi di Kecamatan Gerung, serta wilayah Kecamatan Lembar dan Sekotong.
Pemetaan tersebut menjadi penting agar bantuan pemerintah tidak diberikan secara seragam, melainkan diarahkan kepada kawasan yang memiliki tingkat kerawanan kekeringan lebih tinggi.
Dengan strategi tersebut, pemerintah berharap produktivitas pertanian tetap terjaga meski petani menghadapi tantangan musim kemarau. Adaptasi pola tanam, dukungan irigasi perpompaan dan optimalisasi lahan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan produksi pangan di Lombok Barat.
“Kami terus mendorong para petani untuk cermat membaca siklus alam dan menyesuaikan pola tanam dengan kondisi yang ada,” kata Hakam mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....