Kemarau Ancam Hortikultura, Petani Lombok Barat Tetap Optimistis Panen

  • 04 Agt 2026 07:08 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat – Musim kemarau tahun ini membawa tantangan besar bagi petani hortikultura di Kabupaten Lombok Barat, khususnya komoditas cabai. Perubahan cuaca yang dipengaruhi embusan angin dingin dari Australia memicu meningkatnya serangan penyakit antrak dan virus yang menyebabkan daun mengering, keriting, hingga menurunkan produktivitas tanaman.

Meski demikian, para petani mulai melihat tanda-tanda pemulihan memasuki Agustus. Cuaca yang berangsur stabil serta penerapan pengendalian hama dengan agen hayati dan formulasi pestisida yang tepat menjadi harapan baru bagi keberlangsungan usaha tani cabai.

Ketua Kelompok Tani (Poktan) Beleke, Hamka, menjelaskan bahwa kondisi cuaca pada Juni hingga Juli menjadi periode paling berat bagi petani hortikultura. Menurutnya, kekhawatiran terhadap dampak El Nino yang sebelumnya diprediksi pemerintah benar-benar dirasakan di lapangan.

"Kalau dampaknya pada musim sekarang memang terasa. Pada Juni sampai Juli tanaman hortikultura, terutama cabai, melon dan semangka, banyak terdampak karena embusan angin dingin dari Australia," ujarnya, Senin 3 Agustus 2026.

Ia menuturkan, suhu dingin yang terjadi pada musim kemarau memicu berkembangnya penyakit antrak serta serangan virus pada tanaman cabai. Gejalanya terlihat dari daun yang mengering, mengerut, hingga buah yang gagal berkembang secara optimal.

"Kondisi ini menyebabkan banyak tanaman cabai terserang penyakit antrak dan virus. Daunnya mengering dan keriting sehingga pertumbuhan tanaman terganggu," katanya menegaskan.

Hamka mengatakan, setelah dilakukan pendampingan kepada petani dengan penggunaan formulasi pengendalian yang sesuai, kondisi tanaman mulai menunjukkan perkembangan positif.

"Alhamdulillah setelah petani menerapkan penanganan yang kami sarankan, tanaman cabai mulai membaik. Memasuki Agustus, embusan angin dingin dari Australia juga mulai berkurang sehingga tanaman lebih cepat pulih," ucapnya.

Di wilayah Kecamatan Gerung, khususnya Desa Beleke, sekitar 50 petani hortikultura sempat mengalami serangan penyakit pada tanaman cabai. Namun, saat ini sebagian besar tanaman mulai kembali tumbuh dengan baik setelah mendapatkan penanganan yang tepat.

Menurut Hamka, keberhasilan tersebut tidak lepas dari penggunaan produk formulator yang mampu membantu mengendalikan serangan penyakit dan hama pada tanaman.

Meski produksi belum sepenuhnya pulih, kondisi pasar justru memberikan angin segar bagi petani. Harga cabai saat ini berada di kisaran Rp45 ribu per kilogram, jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya ketika harga sempat anjlok hingga hanya Rp2.000–Rp3.000 per kilogram.

"Harga sekarang Alhamdulillah mencapai sekitar Rp45 ribu per kilogram. Ini tentu jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu saat petani menjual cabai dengan harga yang sangat rendah," ujarnya.

Namun demikian, tingginya risiko serangan penyakit membuat minat petani menanam cabai terus menurun. Dari total lahan pertanian Desa Beleke seluas sekitar 248 hektare, luas tanam cabai kini hanya berkisar 10 hingga 15 hektare. Padahal pada tahun-tahun sebelumnya, luas tanam cabai pernah mencapai sekitar 48 hektare.

Hamka menyebut penurunan tersebut dipicu oleh hasil panen yang kerap tidak sebanding dengan biaya produksi akibat serangan penyakit yang berulang sejak Mei hingga Juli.

"Serangan antrak yang terus muncul membuat banyak petani memilih mengurangi bahkan meninggalkan budidaya cabai karena hasilnya tidak pernah maksimal," katanya menegaskan.

Ia menambahkan, hingga saat ini petani baru melakukan tiga kali panen karena proses pemulihan tanaman berlangsung cukup lama.

Sebagai langkah utama, kelompok tani terus mengedepankan penggunaan agen hayati dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman. Pendekatan tersebut dinilai lebih ramah lingkungan sekaligus mampu menjaga keseimbangan ekosistem lahan pertanian.

"Kami selalu mengutamakan penggunaan agen hayati untuk mengendalikan hama dan penyakit. Apabila cara tersebut belum memberikan hasil maksimal, barulah kami menggunakan pestisida kimia sebagai langkah terakhir," katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....