Penggunaan Bioaktivator Trichoderma Dorong Pertanian Berkelanjutan

  • 03 Agt 2026 08:58 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Timur - Tim peneliti Fakultas Pertanian Universitas Gunung Rinjani (UGR) melakukan penelitian mengenai pemanfaatan Bioaktivator Trichoderma sebagai upaya mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia pada budidaya jagung lahan kering di Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur. Penelitian tersebut melibatkan dosen dan mahasiswa UGR yang berkolaborasi dengan peneliti dari Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar guna mengembangkan sistem budidaya jagung yang lebih ramah lingkungan.

Penelitian dilakukan melalui pengujian di lahan pertanian, Focus Group Discussion (FGD), serta wawancara dengan petani untuk mengetahui tingkat adopsi teknologi biodekomposer Trichoderma pada lahan suboptimal. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan inovasi pertanian yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Selama ini sektor pertanian masih banyak bergantung pada pupuk kimia untuk meningkatkan hasil produksi. Namun, penggunaan yang berlebihan berpotensi menurunkan kualitas tanah, mengurangi populasi mikroorganisme yang bermanfaat, mencemari lingkungan, serta meningkatkan biaya produksi. Kondisi tersebut mendorong pengembangan teknologi alternatif melalui pemanfaatan Trichoderma sebagai bioaktivator.

Trichoderma merupakan jamur yang hidup secara alami di dalam tanah dan memiliki kemampuan meningkatkan kesuburan tanah, mempercepat proses dekomposisi bahan organik, merangsang pertumbuhan akar, serta menekan perkembangan berbagai penyakit tanaman yang berasal dari akar. Penggunaan bioaktivator ini juga mampu meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara sehingga kebutuhan pupuk kimia dapat ditekan tanpa menghambat pertumbuhan tanaman.

Dalam penelitian tersebut, tim peneliti menerapkan Trichoderma pada tanaman jagung berumur 14 hari setelah tanam menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK). Aplikasi dilakukan dengan dosis 10 mililiter dan 7,5 mililiter per tanaman sesuai rekomendasi berbagai literatur ilmiah. Bioaktivator tersebut kemudian dikombinasikan dengan pupuk organik agar penggunaan pupuk kimia dapat dikurangi secara bertahap sesuai kondisi lahan dan kebutuhan tanaman.

Ketua Peneliti, Rini Endang Prasetyowati, mengatakan penerapan teknologi hayati menjadi langkah strategis dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan. Menurutnya, penggunaan Trichoderma tidak hanya meningkatkan produktivitas tanaman, tetapi juga menjaga kesehatan tanah dan mengurangi dampak negatif penggunaan pupuk kimia.

"Penggunaan biodekomposer Trichoderma merupakan salah satu solusi dalam mewujudkan sistem pertanian yang produktif, efisien, dan ramah lingkungan. Dengan mengombinasikan Trichoderma, pupuk organik, dan penggunaan pupuk kimia secara bijaksana berdasarkan kebutuhan tanaman, petani dapat menjaga kesuburan tanah, meningkatkan hasil panen, serta mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia," ucap Rini Endang Prasetyowati, Senin 3 Agustus 2026.

Ia menambahkan, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi petani, khususnya di lahan suboptimal, untuk menerapkan teknologi budidaya yang lebih efisien dan berkelanjutan. "Harapan kami, hasil penelitian ini dapat diadopsi secara luas sehingga petani memperoleh hasil panen yang lebih baik dengan biaya produksi yang lebih efisien, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan untuk jangka panjang," ujarnya.

Tim pelaksana juga menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) atas dukungan pendanaan melalui Program Penelitian Tahun Anggaran 2026. Dengan anggaran tersebut penelitian dapat berjalan dengan baik dan diharapkan memberi manfaat bagi pengembangan pertanian berkelanjutan di Lombok Timur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....