SLCN Meteorologi ZAM 2026 Dorong Nelayan Selamat dan Sejahtera

  • 02 Agt 2026 07:41 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Timur — Keselamatan nelayan saat melaut kembali menjadi perhatian dalam upaya memperkuat sektor maritim di Nusa Tenggara Barat (NTB). Pemahaman terhadap kondisi cuaca dinilai menjadi salah satu bekal penting agar nelayan mampu menentukan waktu dan wilayah penangkapan ikan secara lebih aman.

Upaya tersebut diwujudkan melalui Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) NTB 2026 yang digelar Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) BMKG di Desa Labuhan Lombok, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, Sabtu, 1 Agustus 2026.

Kegiatan bertajuk “Dengan SLCN Wujudkan Nelayan Hebat, Selamat, dan Sejahtera” itu diikuti 34 nelayan Lombok Timur. Sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan sektor kemaritiman turut hadir, di antaranya Anggota Komisi V DPR RI Abdul Hadi, Direktur Meteorologi Maritim BMKG Agie Wandala Putra, Kepala Pelabuhan Perikanan Labuhan Lombok, serta jajaran BMKG NTB.

Kepala Stasiun Meteorologi ZAM Satria Topan Primadi mengatakan, SLCN tidak sebatas memberikan pengetahuan mengenai cuaca, tetapi diarahkan agar nelayan mampu menggunakan informasi tersebut sebagai dasar sebelum mengambil keputusan untuk melaut.

Menurutnya, kemampuan membaca perkembangan cuaca merupakan bagian penting dari upaya mengurangi risiko ketika nelayan beraktivitas di laut.

“Melalui sekolah ini, nelayan diharapkan semakin memahami informasi cuaca sehingga dapat menjadi pertimbangan sebelum melaut,” ujarnya.

Direktur Meteorologi Maritim BMKG Agie Wandala Putra menegaskan, peningkatan kesejahteraan nelayan tidak dapat dilepaskan dari ketersediaan informasi cuaca yang cepat, mudah dipahami, dan dapat diakses secara luas.

BMKG, katanya, terus mengembangkan layanan yang memungkinkan masyarakat memperoleh informasi mengenai kondisi laut sebelum melakukan aktivitas di perairan.

Salah satu layanan yang diperkenalkan adalah Ina-WIS (Indonesia Weather Information for Shipping). Platform tersebut menyediakan informasi cuaca maritim secara interaktif, termasuk kondisi gelombang serta peta potensi ikan yang dapat dimanfaatkan sebagai referensi nelayan.

“Informasi cuaca harus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat maritim karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang wilayah lautnya sangat luas,” katanya menegaskan.

Agie menjelaskan, pemanfaatan teknologi dalam aktivitas nelayan diharapkan mampu melahirkan perubahan pola kerja. Nelayan tidak hanya mengandalkan pengalaman dan kondisi alam yang terlihat secara langsung, tetapi juga menggunakan data cuaca dan informasi kelautan sebagai bahan pertimbangan.

Menurut dia, transformasi tersebut penting untuk membangun nelayan yang semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus lebih siap menghadapi dinamika cuaca di laut.

Agie juga menilai Lombok Timur memiliki potensi besar dari sektor kelautan dan perikanan. Kekayaan laut tersebut menjadi modal penting bagi masyarakat pesisir, terlebih kawasan Lombok juga memiliki daya tarik wisata yang telah dikenal hingga mancanegara.

Karena itu, informasi cuaca tidak hanya penting bagi nelayan. Informasi mengenai kondisi perairan juga dapat mendukung aktivitas masyarakat dan wisatawan yang memanfaatkan kawasan pesisir.

“Lombok Timur memiliki potensi kelautan sekaligus keindahan alam yang luar biasa. Informasi cuaca nantinya juga dapat menjadi salah satu rujukan bagi wisatawan ketika melakukan aktivitas di kawasan pesisir,” ucapnya.

Sementara itu, Anggota Komisi V DPR RI Abdul Hadi menilai potensi perikanan di Lombok harus dikelola secara optimal agar mampu memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat.

Namun, potensi tersebut tetap harus dibarengi dengan perhatian terhadap keselamatan. Kondisi cuaca buruk menjadi salah satu risiko yang tidak dapat diabaikan oleh nelayan ketika beraktivitas di laut.

Hadi menyebut sejumlah wilayah pesisir di Pulau Lombok memiliki aktivitas perikanan yang penting, mulai dari Awang di Lombok Tengah, Labuhan Lombok di Lombok Timur, hingga kawasan Bayan dan Tanjung di Lombok Utara.

Menurutnya, akses nelayan terhadap informasi cuaca melalui perangkat yang mereka gunakan sehari-hari perlu terus diperkuat.

“Informasi cuaca harus bisa terhubung dan mudah diakses melalui telepon pintar sehingga nelayan dapat mengetahui kondisi laut sebelum berangkat,” katanya.

Hadi juga meminta 34 peserta SLCN NTB 2026 tidak berhenti pada pemanfaatan ilmu untuk kepentingan pribadi. Pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan diharapkan diteruskan kepada nelayan lain di lingkungan masing-masing.

“Saya harapkan peserta yang mengikuti sekolah ini juga dapat mengajarkan ilmu yang diperoleh kepada masyarakat nelayan lainnya,” katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....