SEAMEO BIOTROP Kembangkan Model Pembelajaran Berbasis Geopark Rinjani
- 28 Jul 2026 11:46 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – SEAMEO BIOTROP meluncurkan implementasi perdana program Geopark Educational Model for School (GEMS) melalui penyelenggaraan Regional Webinar and National Training bertajuk Geoparks as Living Laboratories: Integrating Biodiversity Education, Agrobiodiversity, and Sustainable Community Development in Southeast Asia di kawasan Rinjani-Lombok UNESCO Global Geopark pada 28–31 Juli 2026.
Kegiatan ini menjadi tonggak awal pengembangan GEMS, sebuah model pembelajaran yang menjadikan geopark sebagai laboratorium hidup (living laboratory) untuk mengintegrasikan pendidikan berbasis biodiversitas, agrobiodiversitas, geodiversitas, budaya lokal, dan pembangunan masyarakat berkelanjutan.
Regional Webinar yang digelar Selasa 28 Juli 2026, diikuti lebih dari 100 peserta dari Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Peserta berasal dari kalangan pendidik, akademisi, mahasiswa, pengelola geopark, serta berbagai institusi pendidikan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelatihan nasional pada 29–31 Juli 2026 yang melibatkan sekolah-sekolah dan institusi pendidikan di kawasan Rinjani-Lombok.
Direktur SEAMEO BIOTROP, Edi Santosa, mengatakan pelaksanaan GEMS menjadi langkah strategis dalam menghubungkan dunia pendidikan dengan kekayaan alam dan budaya yang dimiliki kawasan geopark.
Menurutnya, Rinjani-Lombok dipilih sebagai lokasi implementasi pertama karena memiliki keterkaitan yang kuat antara bentang alam, keanekaragaman hayati, pertanian, budaya, dan kehidupan masyarakat yang dapat menjadi sumber pembelajaran kontekstual bagi peserta didik.
"Melalui GEMS, peserta didik tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung melalui observasi lapangan, praktik, dan interaksi dengan lingkungan sekitar sehingga geopark benar-benar menjadi laboratorium hidup," ujarnya.

Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi NTB, Wirman, mengapresiasi inisiatif SEAMEO BIOTROP dalam menghadirkan model pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.
Ia menilai pendekatan GEMS sejalan dengan arah kebijakan pendidikan nasional yang mendorong pembelajaran kontekstual melalui integrasi sains, lingkungan, dan budaya. Wirman berharap hasil pelatihan dapat diterapkan secara nyata di sekolah-sekolah, khususnya yang berada di sekitar kawasan Rinjani-Lombok UNESCO Global Geopark.
Sementara itu, Deputy Director for Program SEAMEO BIOTROP, Dr. Doni Yusri, menjelaskan GEMS dikembangkan untuk menjembatani potensi geopark dengan proses pembelajaran di sekolah.
"Melalui GEMS, kami ingin mendorong sekolah untuk melihat geopark sebagai ruang belajar yang nyata. Rinjani-Lombok menjadi langkah awal untuk melihat bagaimana pendekatan ini dapat diterapkan bersama sekolah dan para pemangku kepentingan, kemudian direplikasi sesuai karakteristik geopark di daerah lain," katanya.
Dukungan juga datang dari dunia pendidikan vokasi. Kepala SMKN PP Mataram menilai GEMS sangat relevan karena mampu menghubungkan kompetensi yang dipelajari siswa dengan kondisi nyata di lapangan, khususnya pada bidang pertanian.
Menurutnya, pembelajaran tidak hanya berfokus pada teknik budidaya dan produksi, tetapi juga membangun pemahaman siswa mengenai hubungan antara pertanian, biodiversitas, lingkungan, budaya, dan kehidupan masyarakat sehingga melahirkan lulusan yang memiliki keterampilan sekaligus kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.
Hal senada disampaikan Kepala SMAN 1 Sembalun yang menjadi tuan rumah kegiatan di kawasan Sembalun. Ia menyebut program tersebut membuka peluang bagi sekolah untuk memanfaatkan kekayaan alam dan budaya di sekitar Rinjani sebagai bagian dari proses belajar mengajar.
"Melalui GEMS, guru dan siswa didorong melihat lingkungan sekitar sebagai sumber belajar yang kaya sekaligus menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab generasi muda dalam menjaga kelestarian Rinjani-Lombok UNESCO Global Geopark," ujarnya.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah II Lombok Timur, Supriyadi, menambahkan keterlibatan sekolah dalam GEMS menjadi kesempatan untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih kontekstual sesuai karakteristik daerah.
Ia berharap para guru yang mengikuti pelatihan mampu mengadaptasi pengalaman yang diperoleh menjadi model pembelajaran berbasis potensi lokal di sekolah masing-masing serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, pengelola geopark, dan masyarakat.

Koordinator Program GEMS, Dewi Suryani, menjelaskan pelatihan nasional dirancang melalui kombinasi pembelajaran di kelas, diskusi interaktif, praktik lapangan, penyusunan action plan, hingga observasi langsung di kawasan Rinjani-Lombok UNESCO Global Geopark, SMKN PP Mataram, dan SMAN 1 Sembalun.
Selama empat hari, peserta memperoleh materi mengenai analisis vegetasi, identifikasi gulma dan spesies asing invasif, budidaya tanaman obat, hortikultura dataran tinggi, komoditas buah lokal, pemetaan berbasis GIS, hingga penyusunan rencana aksi implementasi GEMS.
SEAMEO BIOTROP berharap pengalaman implementasi pertama di Rinjani-Lombok dapat menjadi model yang direplikasi di berbagai geopark di Indonesia maupun Asia Tenggara. Dengan demikian, geopark tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi dan destinasi wisata, tetapi juga berkembang menjadi pusat pembelajaran berbasis biodiversitas, pelestarian lingkungan, pemanfaatan potensi lokal, serta pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....