Hibah Kemdiktisaintek Perkuat Sanggar Putri Nyale Kembangkan Dramatari

  • 04 Agt 2026 16:23 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Tengah – Upaya memperkuat ekosistem seni pertunjukan berbasis budaya lokal terus dilakukan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan komunitas seni. Dukungan hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Program BIMA skema Inovasi Seni Nusantara kini mengalir kepada Sanggar Putri Nyale di Kabupaten Lombok Tengah sebagai bagian dari pengembangan seni pertunjukan dramatari yang diharapkan mampu memperkuat sektor pariwisata budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat.

Program yang dilaksanakan oleh tim Universitas Bumigora tersebut mengusung tema "Pemberdayaan Sanggar Putri Nyale Melalui Seni Pertunjukan Dramatari untuk Mendukung Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Lombok Tengah". Kegiatan tahap pertama difokuskan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui workshop, pendampingan intensif proses kreatif, serta penyerahan bantuan inventaris pendukung kegiatan kesenian.

Ketua pelaksana program, Taufik Mawardi, M.A., menjelaskan bahwa penguatan komunitas seni tidak cukup hanya melalui pelatihan, tetapi juga harus dibarengi dengan penyediaan sarana yang memadai agar proses kreatif dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Menurutnya, Program BIMA Inovasi Seni Nusantara dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata komunitas seni di daerah, mulai dari peningkatan kompetensi hingga penguatan fasilitas pendukung produksi pertunjukan.

"Melalui dukungan Program BIMA Inovasi Seni Nusantara, kami berupaya menghadirkan pendampingan yang benar-benar menjawab kebutuhan sanggar. Workshop dan latihan bertujuan meningkatkan kapasitas artistik para anggota, sementara bantuan inventaris menjadi modal awal agar mereka memiliki sarana yang lebih memadai untuk berlatih dan memproduksi pertunjukan secara profesional," kata Taufik, Selasa 4 Agustus 2026.

Workshop yang dilaksanakan tidak hanya membahas teori penciptaan dramatari, tetapi juga memperkenalkan konsep penyusunan naskah pertunjukan, pengembangan artistik, tata panggung, hingga strategi mengemas pertunjukan agar memiliki daya tarik bagi wisatawan tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya Sasak sebagai identitas utama.

Usai sesi teori, peserta langsung mengikuti pendampingan praktik bersama tim fasilitator. Seluruh anggota sanggar dilibatkan dalam proses penyusunan adegan, pembentukan karakter, eksplorasi gerak tari, penguatan ekspresi, hingga merangkai alur dramatik menjadi sebuah pertunjukan yang utuh.

Pendekatan pembelajaran berbasis praktik tersebut dipilih agar peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam proses penciptaan karya seni pertunjukan yang siap dikembangkan menuju pementasan.

Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, tim Universitas Bumigora juga menyerahkan sejumlah bantuan inventaris kepada Sanggar Putri Nyale. Bantuan tersebut meliputi kostum tari, perlengkapan tata rias (make up), serta perangkat sound system yang akan dimanfaatkan dalam kegiatan latihan maupun pementasan.

Taufik menegaskan bahwa tujuan utama program bukan sekadar menghasilkan satu karya dramatari, tetapi membangun fondasi kemandirian komunitas seni agar mampu terus berproduksi dan berkembang setelah program berakhir.

"Kami berharap setelah program ini selesai, Sanggar Putri Nyale tidak hanya memiliki karya baru, tetapi juga memiliki kemampuan, pengalaman, dan fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan berbagai pertunjukan berikutnya. Pada akhirnya, sanggar diharapkan mampu menjadi bagian penting dalam penguatan pariwisata budaya dan ekonomi kreatif di Lombok Tengah," ujarnya.

Sementara itu, Pembina Sanggar Putri Nyale, Nyoman Prawani Wulantari, S.Sn., menyambut positif pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, pendampingan yang diberikan membuka wawasan baru bagi para anggota sanggar yang selama ini lebih banyak berkecimpung pada pertunjukan tari tradisional.

Ia menilai proses kreatif dramatari membutuhkan kemampuan yang lebih komprehensif karena memadukan unsur tari, cerita, karakter, artistik, dan penyajian panggung dalam satu kesatuan pertunjukan.

"Pendampingan yang dilakukan sangat membantu kami dalam memahami proses penciptaan dramatari. Selama ini kami lebih banyak bergerak pada tari tradisional, sedangkan melalui program ini kami belajar bagaimana mengembangkan sebuah pertunjukan yang memiliki alur cerita, penyajian artistik, dan tetap berpijak pada nilai-nilai budaya Sasak," katanya.

Nyoman juga mengungkapkan bahwa bantuan inventaris yang diterima akan menjadi aset penting bagi sanggar dalam meningkatkan kualitas latihan maupun pementasan pada masa mendatang.

"Kami sangat bersyukur atas kepercayaan dan dukungan yang diberikan melalui Program Inovasi Seni Nusantara. Bantuan kostum, make up, dan sound system akan menjadi inventaris yang dapat kami gunakan dalam latihan maupun pementasan ke depan. Dukungan ini memberikan semangat baru bagi seluruh anggota untuk terus berkarya," ujarnya.

Tahap pertama program ini menjadi pijakan awal sebelum memasuki proses penyempurnaan karya dramatari hingga pementasan sebagai luaran utama kegiatan. Melalui kolaborasi antara Kemdiktisaintek, Universitas Bumigora, dan Sanggar Putri Nyale, diharapkan lahir model pemberdayaan komunitas seni yang tidak hanya berkontribusi terhadap pelestarian budaya lokal, tetapi juga mampu menghadirkan produk seni pertunjukan yang bernilai ekonomi, memperkuat daya tarik destinasi wisata budaya, serta membuka peluang baru bagi pengembangan industri kreatif di Lombok Tengah maupun Nusa Tenggara Barat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....