Enam Ruang Kelas SMAN 1 Gunungsari Disegel
- 27 Jul 2026 19:53 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Dinas PUPRPKP NTB menyegel enam ruang kelas di SMAN 1 Gunungsari, Lombok Barat, setelah hasil asesmen menyatakan bangunan tidak lagi layak digunakan karena faktor usia dan berpotensi membahayakan keselamatan.
- Meski ruang kelas ditutup, kegiatan belajar tetap berlangsung menggunakan ruang darurat, sementara sekolah lain diminta melakukan asesmen mandiri untuk mengantisipasi risiko bangunan ambruk.
RRI.CO.ID, Matram – Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) Nusa Tenggara Barat menyegel enam ruang kelas di SMAN 1 Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat. Penyegelan ini dilakukan setelah hasil asesmen menyatakan bangunan tersebut tidak lagi layak digunakan karena mengalami penurunan kualitas struktur akibat faktor usia.
Kepala Dinas PUPRPKP NTB, Lalu Kusuma Wijaya, mengatakan penyegelan dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk menghindari risiko ambruknya bangunan yang dapat membahayakan keselamatan siswa maupun tenaga pendidik.
"Kami mengambil langkah pencegahan. Ruangan itu tidak boleh digunakan karena dikhawatirkan membahayakan. Jangan sampai terjadi keruntuhan yang menimbulkan korban," ujar Kusuma Wijaya, Senin 27 Juli 2026.
Menurut dia, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kewaspadaan setelah beberapa bangunan sekolah di NTB mengalami insiden serupa. Sebelumnya, ruang kelas di SMAN 7 Mataram ambruk pada 19 Mei 2026, disusul bangunan di SMAN 1 Lingsar yang roboh pada 7 Juni 2026. Kedua peristiwa itu diduga dipicu usia bangunan yang sudah tua.
Meski enam ruang kelas ditutup, Wijaya memastikan kegiatan belajar mengajar di SMAN 1 Gunungsari tetap berjalan. Sekolah diminta memanfaatkan ruang alternatif atau ruang darurat yang tersedia agar proses pembelajaran tidak terhenti.
"Yang terpenting aktivitas belajar tetap berlangsung. Sementara bisa menggunakan ruang lain atau ruang darurat sampai ada penanganan lebih lanjut," katanya.
PUPRPKP NTB juga mengingatkan bahwa sejumlah sekolah lain dengan usia bangunan yang hampir sama berpotensi mengalami kondisi serupa. Namun, keterbatasan personel membuat asesmen menyeluruh belum dapat dilakukan dalam waktu bersamaan.
Karena itu, pihaknya meminta setiap sekolah melakukan pemeriksaan awal secara mandiri menggunakan panduan yang telah disiapkan. Pemeriksaan dilakukan melalui pengamatan visual terhadap kondisi bangunan untuk mendeteksi potensi kerusakan sejak dini.
Salah satu indikator yang perlu diwaspadai, kata Kusuma, adalah bentuk atap yang mulai melengkung. Kondisi tersebut dapat mengindikasikan adanya bagian struktur yang sudah rapuh dan berisiko mengalami keruntuhan apabila tetap digunakan. Langkah ini diharapkan dapat mencegah terulangnya insiden bangunan sekolah ambruk di NTB.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....