Adelia Pemenang Wikithon NTB, Ajak Pemuda Jadi Garda Pencegahan Perkawinan Anak

  • 27 Jul 2026 14:22 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Perkawinan anak masih menjadi tantangan serius yang memengaruhi masa depan generasi muda di Nusa Tenggara Barat (NTB). Karena itu, peran pemuda dinilai sangat penting sebagai agen perubahan melalui edukasi, kampanye sebaya, hingga penyampaian gagasan kepada para pemangku kebijakan.

Hal tersebut mengemuka dalam program Beranda Dialog Astacita Pengarusutamaan Gender bertema “Peran Pemuda dalam Pencegahan Perkawinan Anak” yang disiarkan Pro 1 RRI Mataram, Senin 27 Juli 2026, menghadirkan Adelia Najwa Rahmadiyanti, pemenang Wikithon Buaq Ate BASAibu-NTB sekaligus Fasilitator Dewan Anak Mataram.

Adelia yang akrab disapa Wawa menegaskan bahwa upaya pencegahan perkawinan anak tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Orang tua, masyarakat, terutama generasi muda harus mengambil peran aktif untuk menyuarakan hak-hak anak dan menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka.

“Pemuda memiliki energi, kreativitas, dan keberanian untuk menyampaikan ide. Melalui edukasi sebaya dan berbagai forum partisipasi publik, kita bisa ikut mendorong penurunan angka perkawinan anak di NTB,” ujarnya.

Wawa menjelaskan, keterlibatannya dalam isu tersebut bermula dari partisipasinya dalam Wikithon Buaq Ate, sebuah kompetisi opini digital yang diinisiasi BASAibu-NTB. Melalui platform tersebut, pemuda diberi ruang untuk menyampaikan gagasan dan solusi terhadap berbagai persoalan sosial yang dihadapi daerah.

Menurutnya, hingga saat ini telah terselenggara lima kali kegiatan Wikithon, sementara dirinya berhasil menjadi pemenang pada penyelenggaraan ketiga yang mengangkat tema perkawinan usia anak.

“Wikithon menjadi wadah bagi pemuda untuk menyampaikan pandangan dan solusi. Ide-ide yang terkumpul kemudian dirangkum menjadi rekomendasi kebijakan yang dapat dipertimbangkan para pengambil keputusan,” jelasnya.

Pada tema Buaq Ate atau “Buah Hati”, para peserta diminta menyampaikan pandangan mengenai upaya menekan angka perkawinan anak di NTB. Melalui opini singkat yang dikirimkan secara daring, para pemuda diajak memberikan solusi konkret berdasarkan pengalaman dan pengamatan mereka di lingkungan sekitar.

“Opini yang dikirim maksimal 250 kata. Meskipun singkat, gagasan yang disampaikan bisa memberikan dampak besar dan menjadi bagian dari risalah kebijakan,” kata Wawa.

Ketertarikannya pada isu perlindungan anak semakin kuat sejak bergabung dengan Forum Dewan Anak Mataram sekitar lima tahun lalu saat masih duduk di bangku SMP. Pengalaman berinteraksi langsung dengan berbagai persoalan anak membuatnya terdorong untuk terus menyuarakan pentingnya pencegahan perkawinan anak.

Wawa mengajak generasi muda untuk tidak ragu menyampaikan pendapat dan terlibat dalam berbagai gerakan sosial. Menurutnya, setiap ide yang lahir dari pemuda dapat menjadi langkah awal perubahan besar dalam mewujudkan masa depan anak-anak NTB yang lebih baik, sehat, dan berdaya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....