Tebu Jadi Asa Baru Ekonomi Warga Nangamiro
- 27 Jul 2026 14:24 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Dompu — Hamparan lahan pertanian di Desa Nangamiro, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, mulai memperlihatkan perubahan arah. Di tengah dominasi jambu mete, jagung, pisang, dan sejumlah komoditas pangan lainnya, tanaman tebu perlahan muncul sebagai pilihan baru yang mulai dilirik masyarakat.
Perubahan itu tidak berlangsung dalam waktu singkat. Tebu hadir secara bertahap, mengikuti kemampuan petani dan kondisi lahan yang selama ini telah produktif. Bagi masyarakat Nangamiro, beralih komoditas bukan perkara sederhana karena sebagian lahan yang kini mulai ditanami tebu sebelumnya menjadi tempat tumbuh jambu mete.
Kepala Desa Nangamiro, Saidin A Wahab, mengatakan sekitar 90 persen masyarakat di wilayahnya menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian. Selain komoditas yang telah lama menjadi sumber pendapatan, seperti jambu mete dan jagung, warga kini mulai mengembangkan tebu serta kakao sebagai alternatif penggerak ekonomi desa.
"Mayoritas masyarakat kita memang petani. Sekarang selain mete dan jagung, masyarakat juga mulai mengembangkan tebu dan cokelat," ujar Saidin.
Tanaman tebu kini telah menyebar di delapan dusun di Desa Nangamiro. Kendati belum seluruh petani ikut membudidayakannya, perkembangan komoditas tersebut mulai menunjukkan arah positif.
Menurut Saidin, proses peralihan lahan membutuhkan waktu lantaran petani tidak serta-merta meninggalkan tanaman yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.
"Ini bukan lahan kosong yang tidak dimanfaatkan. Sebelumnya sudah ada tanaman jambu mete. Jadi untuk dialihkan menjadi tebu memang harus dilakukan secara perlahan," katanya menegaskan.
Pada musim panen 2026, luas areal tebu di Desa Nangamiro diperkirakan telah mencapai sekitar 24 hektare. Angka tersebut memang belum besar jika dibandingkan dengan keseluruhan potensi pertanian desa. Namun, adanya penambahan sekitar 10 hektare lahan yang dipersiapkan untuk musim tanam berikutnya menjadi sinyal bahwa minat masyarakat terhadap komoditas ini terus tumbuh.
Bagi pemerintah desa, perkembangan tersebut bukan sekadar perubahan jenis tanaman. Tebu mulai dipandang sebagai salah satu peluang untuk memperluas sumber pendapatan masyarakat sekaligus membuka ruang ekonomi baru bagi generasi berikutnya.
Dampaknya mulai dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Saidin menuturkan, kemampuan sebagian orang tua dalam membiayai pendidikan anak hingga perguruan tinggi kini semakin baik dibandingkan sebelumnya.
Ia mengingat, ketika pendapatan warga masih sangat bergantung pada hasil jambu mete dalam skala terbatas, biaya pendidikan tinggi menjadi beban yang tidak mudah dipenuhi. Namun, seiring membaiknya kondisi ekonomi keluarga, semakin banyak anak muda Nangamiro yang dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Perubahan kesejahteraan juga terlihat dari sektor peternakan. Dari sekitar 669 kepala keluarga di Desa Nangamiro, rata-rata keluarga kini memiliki lebih dari satu ekor ternak.
Pertumbuhan tebu di Nangamiro tidak berjalan sendiri. Pemerintah desa membangun komunikasi dan kemitraan dengan PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS), perusahaan pengolahan tebu yang berada di wilayah tersebut.
Kerja sama itu mencakup sejumlah kebutuhan yang berkaitan dengan pengembangan komoditas, mulai dari pendataan lahan potensial hingga dukungan akses menuju kawasan pertanian. Pemerintah desa juga berupaya agar tenaga kerja lokal mendapatkan kesempatan dalam proses panen dan pengangkutan tebu.
Saidin menyebut hubungan antara pemerintah desa, masyarakat, dan perusahaan hingga kini berjalan baik.
"Alhamdulillah, sejauh ini masih berjalan dengan baik dan sukses," ucapnya.
Kemitraan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan pengembangan tebu. Namun, pemerintah desa menyadari masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama menyangkut akses jalan menuju lahan pertanian.
Dalam lima tahun terakhir, pemerintah desa telah membuka sejumlah jalur baru untuk memudahkan mobilitas masyarakat menuju kawasan produksi. Meski demikian, sebagian ruas jalan masih membutuhkan peningkatan kualitas agar tidak cepat mengalami kerusakan, terutama ketika digunakan untuk mengangkut hasil panen.
Di balik optimisme terhadap tebu, persoalan air menjadi tantangan paling serius bagi pertanian Nangamiro.
Desa tersebut memiliki dua titik sumber mata air alami. Namun, potensi itu belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan irigasi pertanian. Akibatnya, sebagian besar aktivitas bercocok tanam masih bergantung pada curah hujan.
Ketersediaan sumur bor juga belum mampu menjawab kebutuhan pertanian dalam skala luas. Infrastruktur yang ada saat ini lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.
"Untuk kebutuhan konsumsi mungkin bisa terpenuhi, tetapi kalau untuk pertanian belum maksimal," katanya.
| Baca juga: Akurasi Data Jadi Fokus Sensus Ekonomi 2026 |
Saidin menilai pengelolaan sumber air secara optimal dapat menjadi titik balik perekonomian Nangamiro. Jika kebutuhan air terpenuhi, peluang pengembangan tidak hanya terbuka untuk tanaman tebu, tetapi juga dapat mendorong sektor hortikultura, peternakan hingga perikanan.
Usulan mengenai pemanfaatan sumber mata air tersebut, kata dia, telah disampaikan kepada pemerintah daerah dan DPRD. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi kendala, termasuk keterbatasan anggaran.
Bagi Saidin, persoalan air bukan hanya menyangkut kebutuhan pertanian, tetapi menjadi bagian penting dari masa depan ekonomi masyarakat.
"Kalau sumber air itu bisa kita maksimalkan, kesejahteraan masyarakat akan jauh lebih meningkat," tegas Saidin.
Di tengah berkembangnya budidaya tebu di Nangamiro, Associate Professor sekaligus Dosen Pascasarjana Universitas Mataram, Dr. H. Iwan Harsono, memberikan catatan mengenai arah pengembangan komoditas tersebut.
Menurut akademisi yang menekuni bidang pembangunan ekonomi wilayah itu, keberhasilan pengembangan tebu tidak cukup hanya dengan memperluas lahan. Setidaknya terdapat empat faktor yang perlu diperhitungkan secara matang, yakni akses pasar, biaya transportasi, ketersediaan tenaga kerja, dan kondisi topografi.
Dari keempat faktor tersebut, akses pasar dan ongkos transportasi menjadi variabel yang sangat menentukan kelayakan ekonomi usaha tani tebu. Sementara tenaga kerja dan karakteristik topografi menjadi faktor pendukung yang turut memengaruhi daya saing komoditas.
Dompu yang masuk dalam kawasan pengembangan tebu nasional secara teoritis memiliki peluang memperoleh kepastian pasar karena terhubung dengan industri gula. Namun, kepastian tersebut tetap harus ditopang rantai pasok yang efisien.
Jarak antara lahan pertanian dan fasilitas pengolahan, termasuk biaya pengangkutan hasil panen, menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan.
Iwan juga mengingatkan bahwa tingginya biaya transportasi di Pulau Sumbawa dapat menekan keuntungan petani apabila produktivitas lahan tidak dikelola secara optimal.
"Secara ekonomi, tebu memang hanya layak dikembangkan pada lahan yang sesuai dan dikelola secara efisien," papar Iwan.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pembeda antara tebu dan jagung. Jagung dinilai lebih fleksibel dari sisi waktu panen maupun jalur distribusi dan telah lama menjadi komoditas yang dipahami petani setempat.
Karena itu, pengembangan tebu di tingkat desa seharusnya tidak hanya didasarkan pada angka statistik berskala besar. Pengetahuan masyarakat lokal justru memiliki peran penting dalam menentukan kelayakan lahan.
Kepala desa dan petani, kata Iwan, memahami secara langsung karakter tanah, sejarah penggunaan lahan, status kepemilikan, ketersediaan tenaga kerja hingga kondisi sumber air. Seluruh informasi tersebut menjadi modal penting sebelum perluasan lahan dilakukan.
Tebu dan Masa Depan Nangamiro
Saat ini, budidaya tebu di Nangamiro masih berada dalam tahap awal. Namun, penambahan areal tanam dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa komoditas tersebut memiliki peluang untuk berkembang lebih besar.
Tantangan berikutnya adalah memastikan perluasan lahan berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas. Ekstensifikasi tanpa dukungan jalan yang memadai, pasokan air, efisiensi biaya angkut, dan pola kemitraan yang sehat berpotensi tidak memberikan hasil maksimal bagi petani.
Karena itu, pengembangan tebu membutuhkan sinergi berkelanjutan antara petani, pemerintah desa, pemerintah daerah, dan pihak industri.
Bagi masyarakat Nangamiro, tebu kini bukan sekadar tanaman baru yang tumbuh di antara jambu mete dan jagung. Komoditas tersebut mulai menjadi bagian dari harapan untuk memperkuat ekonomi keluarga, membuka lapangan kerja, dan memperluas kesempatan generasi muda memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.
Di tengah keterbatasan air dan infrastruktur, warga Nangamiro perlahan membangun babak baru pertanian desanya. Tebu tumbuh berdampingan dengan jambu mete, jagung, kakao, peternakan, dan potensi perikanan.
Jika persoalan air, akses jalan, produktivitas, serta efisiensi distribusi dapat ditangani secara bersama-sama, Nangamiro memiliki peluang untuk menjadikan sektor pertanian sebagai fondasi ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
"Harapan kita sederhana, bagaimana seluruh potensi yang ada bisa dikelola dengan baik agar masyarakat semakin sejahtera," katanya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....