Dari Opini Jadi Aksi, Adelia Sulap Gagasan Cegah Perkawinan Anak
- 22 Jul 2026 14:55 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Isu perkawinan anak tidak hanya menjadi bahan diskusi bagi Adelia Najwa Rahmadiyanti. Pemenang Wikithon ke-4 Buaq Ate ini membuktikan bahwa sebuah gagasan dapat berkembang menjadi aksi nyata yang memberikan manfaat bagi anak-anak di masyarakat.
Dalam Dialog Pemuda Wikithon Aksara yang berlangsung di Aula Inovasi Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM NTB, Gomong, Mataram, Selasa 21 Juli 2026, Adelia mengungkapkan bahwa tema Buaq Ate yang mengangkat isu perkawinan anak berangkat dari keresahan terhadap berbagai faktor yang mendorong terjadinya pernikahan usia dini.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan semata-mata karena keinginan anak untuk menikah, melainkan dipengaruhi oleh pola asuh keluarga, lingkungan pergaulan, hingga derasnya arus digitalisasi yang mengubah cara anak-anak tumbuh dan berinteraksi.
“Dari ide saya, teman-teman melihat bahwa anak-anak saat ini tidak memiliki ruang bermain yang layak dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget,” ujarnya.
Kondisi tersebut, lanjut Adelia, menciptakan jarak komunikasi antara anak dan orang tua. Akibatnya, anak kehilangan ruang untuk bertumbuh secara sehat dan rentan mengambil keputusan yang berisiko, termasuk perkawinan usia anak.
Berangkat dari hasil opini yang disusun dalam Wikithon, Adelia bersama berbagai pihak kemudian membangun sebuah perpustakaan sebagai ruang belajar dan ruang interaksi keluarga. Melalui fasilitas tersebut, anak-anak dapat membaca buku secara gratis, sementara orang tua memiliki kesempatan untuk mendampingi dan membangun kedekatan dengan anak-anak mereka.
“Alhamdulillah, melalui fasilitasi Basaibu Wiki NTB, hasil opini kami tidak berhenti di atas kertas. Dari gagasan itu lahirlah perpustakaan yang bisa dimanfaatkan masyarakat,” katanya.
Tidak hanya menyediakan buku bacaan, perpustakaan tersebut juga menghadirkan berbagai permainan edukatif. Adelia menilai pendekatan konvensional dalam sosialisasi sering kali sulit diterima anak-anak karena keterbatasan daya fokus mereka.
Sebagai alternatif, ia bersama Forum Anak mengembangkan media kreatif berupa wayang botol yang dibuat dari limbah plastik. Media ini digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan edukatif dengan cara yang lebih menyenangkan dan mudah dipahami.
“Adik-adik di Forum Anak membuat wayang botol untuk mendukung kegiatan sosialisasi, sehingga mereka lebih senang menerima materi yang disampaikan,” jelasnya.
Gagasan tersebut lahir dari pengamatan dan penelitian yang dilakukan Adelia bersama Forum Anak Kota Mataram. Implementasinya kemudian diperluas melalui kolaborasi dengan Forum Anak Lombok Utara, terutama di Desa Genggelang yang menjadi salah satu desa binaan program Wikithon.
Dari berbagai kegiatan yang dilakukan, Adelia menemukan satu kesimpulan penting: anak-anak membutuhkan ruang bermain yang aman, waktu berkualitas bersama keluarga, dan perhatian dari orang-orang dewasa di sekitar mereka.
| Baca juga: PKS NTB sembelih 193 hewan kurban |
“Pada dasarnya bermain adalah hak anak. Mereka membutuhkan ruang untuk itu, sekaligus membutuhkan pendampingan dari orang tua,” tegasnya.
Saat ini, lebih dari seratus anak telah merasakan manfaat dari keberadaan perpustakaan tersebut. Selain dapat membaca buku secara gratis, mereka juga memperoleh kesempatan untuk membangun kedekatan dengan orang tua melalui aktivitas membaca dan bercerita bersama.
Adelia berharap pemerintah daerah dan para pemangku kebijakan dapat memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan anak-anak, terutama dalam penyediaan ruang tumbuh yang sehat dan ramah anak.
“Kami berharap pemerintah dan OPD terkait tidak memandang sebelah mata kebutuhan anak-anak. Kami membutuhkan dukungan kebijakan agar anak-anak dapat tumbuh dengan baik dan terlindungi,” harapnya.
Sementara itu, Bunda Literasi NTB, Sinta Agathia Iqbal, menilai hasil Wikithon yang mengangkat isu perkawinan anak memiliki nilai strategis bagi pembangunan daerah. Menurutnya, gagasan dan rekomendasi yang lahir dari para pemuda perlu disampaikan kepada Pemerintah Provinsi NTB sebagai bahan analisis dalam merumuskan kebijakan yang berpihak kepada anak.
“Hasil-hasil pemikiran anak muda ini penting untuk menjadi masukan bagi pemerintah. Dengan begitu, program dan bantuan yang diberikan dapat menjawab kebutuhan nyata di lapangan,” ujarnya.
Melalui Wikithon, suara anak muda tidak hanya terdengar, tetapi juga mampu melahirkan solusi konkret. Kisah Adelia menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari sebuah opini yang ditulis dengan kepedulian dan diwujudkan melalui aksi nyata.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....