Tekan Inflasi, Siswa Baru di NTB Wajib Tanam Cabai

  • 16 Jul 2026 08:49 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Pemerintah Provinsi NTB meluncurkan TAPSI melibatkan 41 ribu siswa baru SMA, SMK, dan SLB untuk menanam cabai sebagai strategi pengendalian inflasi dan pendidikan karakter
  • Setiap siswa diwajibkan menanam satu pohon cabai dengan target menghasilkan cadangan 20 ton cabai untuk intervensi pasar ketika harga melonjak
  • Program ini akan menjadi tradisi bagi setiap peserta didik baru melalui Surat Keputusan Gubernur dan difokuskan pada penggunaan pupuk organik serta pelatihan berkala kepada sekolah

RRI.CO.ID, Mataram – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) meluncurkan Gerakan Tanam Cabai untuk Pengendalian Inflasi (TAPSI) yang menyasar sekitar 41 ribu siswa baru SMA, SMK, dan SLB di seluruh NTB. Program ini dirancang sebagai strategi pengendalian inflasi sekaligus pendidikan karakter dan kewirausahaan bagi pelajar.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan TAPSI merupakan respons atas pengalaman daerah menghadapi lonjakan harga cabai dalam dua tahun terakhir. Saat itu, cabai menjadi salah satu penyumbang utama inflasi sehingga pemerintah harus mendatangkan pasokan dari luar daerah untuk melakukan intervensi pasar.

"Ini bukan sekadar menanam cabai. Anak-anak belajar mulai dari penyemaian, penanaman, perawatan, panen sampai penjualan. Mereka belajar soft skill, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan," kata Iqbal di SMKN 5 Mataram, Rabu 15 Juli 2026.

Menurut Iqbal, setiap siswa baru diwajibkan menanam satu pohon cabai. Dengan jumlah peserta didik baru sekitar 41 ribu orang, pemerintah memperkirakan dapat membangun cadangan sekitar 20 ton cabai apabila setiap tanaman menghasilkan rata-rata setengah kilogram.

Cadangan tersebut akan dimanfaatkan sebagai stok untuk intervensi pasar ketika harga cabai melonjak. "Kalau kita punya cadangan cabai, kita bisa melakukan intervensi pasar. Kalau tidak punya stok, tentu kita tidak bisa berbuat banyak," ujarnya.

Ia mengingatkan, pada tahun lalu Pemerintah Provinsi NTB hanya mampu melakukan intervensi sekitar enam ton cabai. Pasokan tersebut bahkan harus didatangkan dari luar daerah melalui dukungan Badan Pangan Nasional.

"Ke depan kita ingin punya stok sendiri sehingga ketika terjadi gejolak harga, kita bisa langsung melakukan intervensi," katanya.

Iqbal menegaskan program ini akan diterapkan di seluruh SMA, SMK, dan SLB negeri di NTB. Gerakan menanam juga akan dijadikan tradisi bagi setiap peserta didik baru melalui Surat Keputusan Gubernur.

Menurut dia, ke depan tanaman yang ditanam tidak harus selalu cabai. Namun budaya menanam akan menjadi bagian dari pendidikan karakter dan kepedulian terhadap lingkungan.

"Nanti akan ada SK Gubernur yang mengatur setiap siswa baru wajib menanam sesuatu sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan," ujarnya.

Perawatan tanaman sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah masing-masing. Pemerintah mewajibkan penggunaan pupuk organik dan telah memberikan pelatihan kepada sekolah sebelum program dijalankan.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Lalu Mirza, mengatakan pihaknya telah menyiapkan hampir 50 ribu bibit cabai yang akan dibagikan secara gratis kepada siswa. Ia berharap program tersebut tidak hanya menghasilkan cadangan cabai, tetapi juga menumbuhkan kecintaan pelajar terhadap lingkungan.

"Yang pertama ingin kita bangun adalah rasa cinta terhadap alam dan tumbuhan. Yang kedua, anak-anak belajar teknik budidaya cabai yang baik sehingga ilmunya bisa diterapkan di rumah bersama keluarga," kata Mirza.

Menurut Mirza, jika setiap keluarga menanam lima hingga sepuluh polybag cabai di rumah, kebutuhan cabai rumah tangga sebenarnya dapat dipenuhi tanpa sepenuhnya bergantung pada pasar.

"Kalau setiap rumah memiliki lima sampai sepuluh polybag, kebutuhan cabai keluarga bisa terpenuhi sepanjang tahun. Jadi masyarakat tidak selalu bergantung pada pasokan di pasar," ujarnya.

Ia juga menepis anggapan bahwa gerakan menanam cabai akan mengurangi pendapatan petani. Berdasarkan data Dinas Pertanian, produksi cabai NTB pada 2025 mencapai sekitar 104 ribu ton, sedangkan kebutuhan konsumsi daerah hanya sekitar 36 ribu ton per tahun. Sisanya dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.

"Pasar cabai nasional masih sangat besar. Produksi NTB sebagian besar memang dikirim ke luar daerah, seperti Jakarta dan Surabaya. Jadi peluang pasarnya masih terbuka lebar," katanya.

Selain mendukung pengendalian inflasi, Mirza berharap TAPSI menjadi pintu masuk bagi lahirnya wirausaha muda di sektor pertanian.

"Cabai merupakan komoditas dengan nilai ekonomi tinggi. Harapannya setelah lulus sekolah, anak-anak sudah memiliki keterampilan dasar budidaya dan berani memulai usaha dari skala kecil. Dari sana mereka bisa berkembang dan menciptakan lapangan kerja," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....