Iqbal Tawarkan Bali Jadi Destinasi Wisata Hijau, Pasokan Listrik EBT dari NTB-NTT

  • 15 Jul 2026 14:49 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengusulkan konsep green tourism di Bali dengan memanfaatkan pasokan listrik energi baru terbarukan (EBT) dari NTB dan NTT melalui kerja sama regional KRBNN.
  • NTB memiliki 77 bendungan dengan 15 di antaranya berukuran besar yang dapat dikembangkan menjadi pembangkit listrik tenaga surya terapung, berpotensi menghasilkan lebih dari 500 MW listrik dari 20 persen luas genangan.
  • Kedua provinsi diproyeksikan mampu memasok 5-7 gigawatt (GW) listrik dalam lima tahun melalui pembangunan super grid.
  • Program NTB Capital dipersiapkan untuk mempercepat perizinan investasi dan memfasilitasi penyelesaian isu sosial.
  • Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyatakan NTT siap menjadi pusat investasi energi terbarukan dengan potensi mencapai 396 GW, termasuk energi surya yang besar karena radiasi matahari tinggi dan musim kemarau yang panjang.

‎RRI.CO.ID, Mataram – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal menawarkan konsep menjadikan Bali sebagai destinasi wisata hijau (green tourism) kelas dunia melalui pasokan listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) dari NTB dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Gagasan itu disampaikan dalam Indonesia Solar Summit (ISS) 2026 di Bali, Selasa, 14 Juli 2026.

‎Menurut Iqbal, kolaborasi Bali, NTB, dan NTT dalam Kerja Sama Regional Bali-NTB-NTT (KRBNN) dapat menjadi model pengembangan kawasan berbasis energi bersih sekaligus mempercepat transisi energi nasional.

‎"Bayangkan Bali menjadi destinasi wisata yang benar-benar 100 persen hijau. Bali tidak perlu lagi membangun pembangkit listrik sendiri karena kebutuhan energinya bisa dipasok dari NTB dan NTT. Potensi energi surya di kedua provinsi ini sangat besar," kata Iqbal.

‎Ia mengatakan NTB memiliki potensi besar untuk mendukung kebutuhan listrik kawasan. Dari 77 bendungan yang dimiliki, sebanyak 15 bendungan berukuran besar dinilai layak dikembangkan menjadi pembangkit listrik tenaga surya terapung (floating solar photovoltaic).

‎Menurut perhitungan pemerintah daerah, pemanfaatan sekitar 20 persen luas genangan bendungan dapat menghasilkan lebih dari 500 megawatt (MW) listrik. Jika digabungkan dengan potensi energi di NTT, kedua provinsi diperkirakan mampu memasok sekitar 5 hingga 7 gigawatt (GW) listrik dalam lima tahun mendatang.

‎Untuk mendukung skema tersebut, Pemerintah Provinsi NTB mengusulkan pembangunan super grid yang menghubungkan sistem kelistrikan Bali, NTB, dan NTT. Interkoneksi itu dinilai akan memperkuat keandalan pasokan listrik sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan di kawasan.

‎Iqbal mengakui pembangunan infrastruktur energi berskala besar membutuhkan dukungan investasi. Karena itu, Pemprov NTB menyiapkan program NTB Capital yang bertujuan mempercepat proses perizinan serta membantu penyelesaian persoalan sosial di sekitar lokasi investasi.

‎"NTB Capital akan menjadi assurance bagi investor. Kami membantu mempercepat proses perizinan sekaligus memfasilitasi penyelesaian berbagai isu sosial yang mungkin muncul di sekitar lokasi investasi," ujarnya.

‎Selain investasi, Iqbal meminta pemerintah pusat menyesuaikan sejumlah regulasi agar pengembangan energi baru terbarukan lebih cepat. Salah satunya dengan memberi keleluasaan kepada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk mengembangkan sistem kelistrikan mandiri melalui pemberian wilayah usaha (Wilus).

‎Menurut dia, kawasan seperti Mandalika memiliki potensi energi surya yang tinggi dan dapat menghasilkan sekitar 100 MW listrik jika diberi kewenangan mengembangkan pembangkit secara mandiri.

‎Iqbal juga mengusulkan relaksasi kebijakan agar listrik dari energi terbarukan tidak seluruhnya harus disalurkan melalui PLN. Dengan kebijakan tersebut, listrik dapat dipasarkan langsung kepada konsumen atau bahkan diekspor ke luar negeri.

‎"Harapan kami, ketika pemerintah memberikan ruang bagi pengembangan energi terbarukan, kewenangan daerah juga diberi relaksasi sehingga kami memiliki keleluasaan untuk menjual energi ke pasar yang lebih luas tanpa mengganggu sistem kelistrikan nasional," katanya.

‎Dalam forum yang sama, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyatakan daerahnya siap menjadi pusat investasi energi baru terbarukan. Berdasarkan data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral NTT, provinsi itu memiliki potensi energi baru terbarukan mencapai sekitar 396 GW, termasuk potensi energi surya yang besar karena tingkat radiasi matahari tinggi dan musim kemarau yang panjang.

‎Melki mengatakan pemerintah daerah siap memberikan kemudahan perizinan, kepastian tata ruang, hingga dukungan penyelesaian aspek sosial bagi investor.

‎"Kami siap menerima siapa pun mitra yang ingin berinvestasi. Pemerintah daerah akan memberikan kemudahan perizinan, kepastian tata ruang, menjembatani aspek sosial, serta membangun ekosistem investasi yang kondusif," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....