Siapkan Budaya Tanggap Gempa Bumi lewat SLG 2026 Lombok Barat

  • 13 Jul 2026 19:49 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Sepanjang 2025, telah terjadi gempa bumi di Lombok yang berasal dari zona subduksi di sekitar Lombok.
  • Peristiwa gempa di Lombok, tanggal 22 Agustus 2022, dirasakan hingga ke Banyuwangi dengan Magnitudo 5.
  • Tsunami pernah terjadi di wilayah NTB, tahun 2018, 1982, dan 1977.
  • Rangkaian gempa yang terjadi sepanjang 2018 di Lombok sampai pada magnitudo tertinggi yaitu 7.0.

RRI.CO.ID, Lombok Barat – Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Nusa Tenggara Barat (NTB) Stasiun Geofisika Mataram mengadakan Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG). Peserta terdiri dari unsur masyarakat di Lombok Barat, penegak hukum, organisasi dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Kegiatan yang bertujuan meningkatkan kewaspadaan dalam melakukan mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami ini bertema Menyiapkan Budaya Tanggap dan Tangguh terhadap Potensi Gempa Bumi dan Tsunami. Berlangsung di Aula Kantor Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), Desa Kebun Ayu, Gerung, Lombok Barat, Sabtu, 11 Juli 2026.

Hadir di acara, Kepala Stasiun Geofisika Mataram Sumawan, Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama, Wakil Bupati Lombok Barat Hj. Nurul Adha, Manajer Unit PLN Indonesia Power UBP Jeranjang Yunisetya Ariwibawa, Anggota Komisi V DPR RI H. Abdul Hadi. Peserta SLG sebanyak 53 orang yang juga dari unsur BPBD NTB, BPBD Lombok Barat, aparat penegak hukum, Tim Siaga Bencana Desa (TSBD).

Nelly Florida mengatakan, peristiwa gempa bumi Lombok tahun 2018 menjadi bukti potensi kegempaan di Lombok. Rangkaian gempa yang terjadi sepanjang 2018 sampai pada magnitudo tertinggi yaitu 7.0. Guncangan itu kemudian tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi, tetapi juga korban jiwa. Peristiwa akhirnya memantik kultur baru di masyarakat NTB tentang memahami bencana gempa bumi.

Bukti lainnya, kate Nelly, terdapat sekitar 6.000 peristiwa gempa bumi di Lombok sepanjang 2025 yang berasal dari zona subduksi di sekitar Lombok. Peristiwa ini sudah harus menciptakan kultur baru berupa kesadaran tentang dampak gempa bumi. Sekaligus bukti bagi BMKG tidak dapat bekerja sendiri. Sehingga memerlukan bantuan masyarakat yang sudah mendapat pendidikan kegempaan di SLG, kemudian ikut menyebarluaskan pemahaman itu.

“Jumlah peserta yang ikut sedikit dibanding jumlah penduduk Lombok Barat yang sampai di angka 700 ribu jiwa,” kata Nelly.

Nelly mengatakan, gempa bumi tidak dapat diprediksi. Namun, potensi kegempaan tetap ada. Contoh seperti peristiwa di tanggal 22 Agustus 2022. Peristiwa gempa setelah gempa 2018 di di Lombok yang dirasakan warga hingga di Banyuwangi, Jawa Timur, d!, bermagnitudo 5. Begitu pula dengan tsunami yang berpotensi terjadi akibat kekuatan dan lokasi gempa dan pernah terjadi wilayah NTB seperti tahun 2018, 1982, dan 1977.

“BMKG berkomitmen terus melakukan edukasi ke masyarakat. Begitu pula harapan bagi sumber daya manusia yang ada di PLTU Jeranjang atau objek vital pasokan energi negara,” kata Nelly.

Abdul Hadi mengatakan, DPR memiliki komitmen yang sama seperti BMKG. Pun mendorong BMKG tetap dapat memperbaharui peralatan yang dimiliki seperti alat pencatat kekuatan gempa bumi. "Sebagai mitra BMKG di DPR, alat tersebut harus terus diujicoba agar ketika terjadi peristiwa gempa bumi dapat berfungsi dengan baik. Selain itu terus memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang fungsi dari alat yang dimiliki BMKG," kata Hadi, Anggota DPR dari NTB.

Yunisetya Ariwibawa mengatakan, SLG sekaligus memberi kemampuan baru bagi PLN selaku pengelola objek vital di bidang energi. Peningkatan kemampuan dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaaan. Lebih lagi, lokasi pembangkit yang masuk kategori wilayah pesisir memerlukan strategi yang tepat agar terhindar dari dampak bencana alam.

Plh. Sekretaris Daerah Lombok Barat Fauzan mengatakan, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat siap memfasilitasi agenda BMKG tentang simulasi mitigasi bencana gempa bumi di sekolah. "Minimal peserta didik tidak merasa panik ketika gempa bumi terjadi,” kata Fauzan.

Anggota TSBD Kebun Ayu Munawir, dan Seli Satu Fadila mengatakan, pembelajaran SLG mendorong peserta dapat melakukan evakuasi mandiri. “Setidaknya, kita tidak bingung ketika peristiwa gempa bumi terjadi,” kata Fadila kepada RRI Mataram dan TVRI NTB yang ikut meliput jalannya pembukaan SLG.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....