Pernikahan Dini Ancam Masa Depan Anak Jadi Sorotan YISA Ambalawi
- 09 Jul 2026 07:28 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Bima - Yayasan YISA Ambalawi Mbojo menilai perkawinan anak masih menjadi ancaman serius bagi masa depan generasi muda di Kabupaten Bima. Untuk itu, organisasi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Bima segera menyusun Rencana Aksi Daerah (RAD) Pencegahan Perkawinan Anak sebagai bentuk komitmen nyata dalam melindungi hak-hak anak.
Field Officer YISA Ambalawi Mbojo, Hersan Hadi, mengatakan anak-anak yang menikah pada usia dini menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan. Selain kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan lebih tinggi, mereka juga berisiko mengalami persoalan kesehatan, tekanan psikologis, dan ketidakstabilan ekonomi keluarga.
"Sering kali kita hanya melihat pernikahan sebagai solusi atas suatu persoalan, padahal di balik itu terdapat konsekuensi panjang yang harus ditanggung anak. Mereka dipaksa memasuki fase kehidupan dewasa sebelum memiliki kesiapan yang memadai," ujarnya.
Menurut Hersan, banyak kasus perkawinan anak berujung pada putus sekolah sehingga peluang anak untuk meningkatkan kualitas hidupnya menjadi semakin terbatas. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memperpanjang rantai kemiskinan antargenerasi.
Ia menjelaskan bahwa anak perempuan yang menikah pada usia muda memiliki risiko kesehatan reproduksi yang lebih tinggi dibandingkan perempuan yang menikah pada usia dewasa. Sementara dari sisi psikologis, pasangan muda sering menghadapi tekanan dalam menjalankan peran sebagai suami, istri, maupun orang tua.
"Ketika seorang anak kehilangan kesempatan belajar dan berkembang, sesungguhnya kita sedang kehilangan potensi sumber daya manusia yang sangat berharga bagi daerah ini. Oleh karena itu pencegahan perkawinan anak harus menjadi gerakan bersama," katanya, Rabu 8 Juli 2026.
Hersan menambahkan bahwa faktor penyebab perkawinan anak sangat beragam, mulai dari kondisi ekonomi keluarga, pengaruh lingkungan sosial, hingga kurangnya edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan perencanaan masa depan.
Karena itu, ia menilai pendekatan yang dilakukan harus menyentuh seluruh lapisan masyarakat, termasuk orang tua, tokoh agama, tokoh adat, guru, dan kelompok pemuda.
"Perlindungan anak tidak bisa dibebankan kepada satu institusi saja. Semua pihak harus hadir untuk memastikan anak-anak memiliki ruang yang aman untuk tumbuh, belajar, dan meraih cita-citanya," ungkapnya.
YISA Ambalawi Mbojo berharap kehadiran RAD nantinya mampu memperkuat sinergi seluruh pihak sehingga angka perkawinan anak di Kabupaten Bima dapat ditekan secara bertahap dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....