Cuaca Indonesia Tetap Aman meski Eropa Dilanda Heatwave Ekstrem
- 03 Jul 2026 09:18 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Barat – Isu gelombang panas ekstrem atau heatwave yang melanda sejumlah negara di Eropa belakangan memunculkan kekhawatiran masyarakat Indonesia. Menanggapi hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan kondisi serupa tidak berpotensi terjadi di Indonesia.
Prakirawan Iklim BMKG Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat (NTB), Tri Putri Ganesh Suadnya, S.Tr. Klim., menjelaskan secara geografis Indonesia berada di kawasan khatulistiwa sehingga memiliki karakter iklim yang berbeda dengan negara-negara di kawasan subtropis maupun Eropa.
"Untuk Indonesia sendiri, kemungkinan terjadinya gelombang panas seperti yang terjadi di sejumlah negara Eropa tidak akan terjadi karena wilayah kita berada di kawasan khatulistiwa," ujarnya, Kamis 2 Juli 2026.
Meski demikian, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak fenomena El Nino yang diperkirakan beriringan dengan musim kemarau. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan curah hujan semakin berkurang sehingga musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Menurutnya, dampak utama El Nino di Indonesia bukan berupa lonjakan suhu ekstrem seperti di Eropa, melainkan meningkatnya potensi kekeringan yang dapat memengaruhi berbagai sektor, mulai dari pertanian hingga ketersediaan air bersih.
Ia menegaskan, suhu udara di Indonesia masih berada dalam kisaran yang relatif normal. Berbeda dengan sejumlah negara di Eropa yang dapat mengalami suhu di atas 40 derajat Celsius, suhu udara di Indonesia umumnya masih berkisar pada angka 30 derajat Celsius.
"Kalau di luar negeri saya mendengar suhunya bisa mencapai lebih dari 40 derajat Celsius. Sementara di Indonesia kondisinya masih aman, rata-rata berada di kisaran 30 derajat Celsius," katanya menegaskan.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyamakan kondisi cuaca Indonesia dengan negara-negara yang sedang mengalami gelombang panas ekstrem. Sebaliknya, kewaspadaan lebih difokuskan pada dampak musim kemarau yang berpotensi menjadi lebih kering akibat pengaruh El Nino.
"Masyarakat cukup mengantisipasi dampak El Nino selama musim kemarau dan tidak perlu khawatir akan terjadinya gelombang panas ekstrem seperti di Eropa karena kondisi iklim Indonesia berbeda," ucapnya.
BMKG berharap masyarakat terus mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan cuaca dan iklim agar dapat melakukan langkah antisipasi sejak dini terhadap potensi kekeringan maupun dampak lain yang mungkin muncul selama musim kemarau.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....