NTP NTB Tetap Tinggi, Kondisi Petani Dinilai Aman

  • 03 Agt 2026 15:49 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Sumbawa – Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sepanjang Januari hingga Juni 2026 tetap berada di atas angka 100. Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa secara umum petani masih memperoleh keuntungan dari aktivitas usahataninya, meskipun sempat terjadi penurunan pada masa panen raya.

Kepala BPS Kabupaten Sumbawa, Yudi Wahyudin, S.ST., M.Si., Senin 3 Agustus 2026 mengatakan, penghitungan NTP secara khusus tidak dilakukan di Kabupaten Sumbawa. Hal itu karena BPS Sumbawa belum memiliki instrumen yang memadai untuk melakukan pengambilan sampel di lapangan. Meski demikian, Kabupaten Sumbawa menjadi bagian dari cakupan penghitungan NTP tingkat Provinsi NTB. Sehingga kondisi Kabupaten Sumbawa turut tercermin dalam angka provinsi.

"NTP merupakan perbandingan antara nilai yang diterima petani dengan nilai yang dibayar petani. Ketika nilainya berada di atas 100, itu menunjukkan kondisi yang baik karena pendapatan petani lebih besar dibandingkan pengeluarannya," ujar Yudi.

Ia menjelaskan, sepanjang semester pertama 2026, NTP NTB selalu berada di atas 100 poin. Pada Januari, NTP tercatat sebesar 130,31 poin dan bertahan hingga Februari. Memasuki Maret dan April, angkanya menurun menjadi kisaran 129 hingga 127 poin.

Menurut Yudi, penurunan tersebut merupakan fenomena yang lazim terjadi pada musim panen raya. Komoditas terbesar penyusun NTP di NTB berasal dari gabah dan jagung. Saat produksi melimpah, harga komoditas cenderung mengalami penurunan karena pasokan meningkat di pasar. Dampaknya, nilai yang diterima petani ikut berkurang.

Selain faktor panen raya, inflasi dan kenaikan harga sejumlah kebutuhan yang harus dibayar petani juga ikut memengaruhi pergerakan NTP. Kondisi tersebut menyebabkan indeks secara umum mengalami penurunan meskipun masih bertahan jauh di atas angka 100.

"Ketika barang melimpah, otomatis harga turun sehingga penerimaan petani ikut menurun. Di sisi lain, adanya inflasi dan kenaikan sejumlah barang yang dibayar petani juga memengaruhi NTP," jelasnya.

Setelah melewati masa panen raya, NTP kembali mengalami penguatan. Pada Mei, indeks mulai meningkat dan pada Juni mencapai 130,95 poin. Yudi memperkirakan tren positif tersebut masih berlanjut pada Juli dengan posisi yang tetap berada di atas 100 poin.

Ia menyebutkan, pada Juni 2026 komoditas yang menjadi penyumbang terbesar terhadap tingginya NTP antara lain gabah, jagung, tomat sayur, cabai, kacang tanah, dan bawang putih. Meningkatnya harga komoditas tersebut, menunjukkan harga di tingkat petani masih terjaga.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari berbagai kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga komoditas pertanian. Meskipun panen berlangsung, harga hasil pertanian tetap mampu dipertahankan, sehingga petani masih memperoleh keuntungan yang layak.

"Saat ini petani juga mulai memasuki tahap persiapan lahan untuk musim tanam padi. Di sejumlah wilayah kondisi pertanaman sudah cukup baik sehingga diharapkan dapat mendukung produksi pada musim berikutnya," katanya.

Yudi menambahkan, NTP memang dapat menjadi salah satu indikator untuk melihat tingkat kesejahteraan petani. Dengan posisi indeks yang berada di atas 100, petani dapat dikatakan memperoleh keuntungan dari usaha taninya. Namun demikian, tingkat kesejahteraan tidak dapat diukur hanya melalui satu indikator.

"Kesejahteraan petani tidak bisa dilihat hanya dari NTP karena masih banyak variabel ekonomi lainnya. Namun, jika dilihat dari indeks NTP, petani masih mendapatkan keuntungan," ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa BPS rutin terlibat dalam forum Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Dalam forum tersebut, BPS menyampaikan perkembangan data inflasi dan NTP, sebagai bahan pertimbangan pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan.

Melalui penyajian data tersebut, pemerintah dapat melihat berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat. Sehingga, langkah-langkah strategis dapat diambil, untuk menjaga stabilitas harga. Sekaligus untuk mempertahankan NTP agar tetap berada pada level yang menguntungkan petani.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....