BBPOM Mataram Dorong Pendekatan One Health Tekan Resistensi Antibiotik di NTB

  • 30 Jun 2026 17:38 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Mataram mendorong penerapan pendekatan One Health dalam pengendalian resistensi antimikroba (AMR) di Nusa Tenggara Barat. Pendekatan tersebut dinilai penting karena melibatkan keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Hal itu mengemuka dalam Bimbingan Teknis Pengendalian Resistensi Antimikroba yang digelar BBPOM di Mataram, Selasa, 30 Juni 2026, dengan melibatkan tenaga kesehatan dan penanggung jawab pelayanan kefarmasian di Pulau Lombok.

Narasumber dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB, drh. Dwi Iswanto, memaparkan sejumlah hasil penelitian yang menunjukkan masih tingginya penggunaan antibiotik secara tidak tepat di sektor peternakan.

Ia menyebut penelitian Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Pendidikan Mandalika menemukan sekitar 60 persen peternak di NTB menggunakan antibiotik tanpa resep dokter hewan. Selain itu, di salah satu daerah ditemukan 75 persen bakteri Escherichia coli (E. coli) pada air sumur telah kebal terhadap Amoksisilin akibat cemaran limbah kandang ternak.

Tak hanya itu, hasil pengujian terhadap sampel daging ayam di salah satu pasar juga menunjukkan 62,5 persen telah terkontaminasi bakteri E. coli yang resisten terhadap Penisilin G.

"Pendekatan One Health yang merupakan integrasi antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan serta penerapan biosekuriti ketat dan penggunaan alternatif alami seperti probiotik dan fitobiotik untuk mengurangi ketergantungan pada antibiotik sangat penting dalam pengendalian AMR," jelasnya.

BBPOM Mataram menilai pengendalian resistensi antibiotik tidak dapat dilakukan hanya dari sektor kesehatan manusia, melainkan membutuhkan sinergi lintas sektor, mulai dari pelayanan kesehatan, peternakan, pemerintah daerah, hingga masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, BBPOM berharap penggunaan antibiotik secara bijak dapat diterapkan di seluruh sektor sehingga mampu menekan laju resistensi bakteri sekaligus mendukung target nasional pengendalian AMR pada 2029.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....