Investasi Sumbawa Terkendala Ketersediaan Lahan
- 24 Jun 2026 08:29 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Sumbawa – Upaya Pemerintah Kabupaten Sumbawa dalam menarik investasi terus dilakukan melalui berbagai strategi promosi dan pemetaan potensi wilayah. Namun, keterbatasan ketersediaan lahan yang sesuai dengan kebutuhan investor, masih menjadi kendala utama dalam merealisasikan sejumlah rencana investasi di daerah tersebut.
Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Sumbawa, Lalu Suharmaji Kertawijaya, mengatakan pemerintah daerah telah membagi kawasan pembangunan dan investasi ke dalam empat wilayah utama, yakni kawasan barat, tengah, selatan, dan timur. Pembagian tersebut dilakukan untuk menyesuaikan jenis investasi dengan potensi unggulan masing-masing wilayah.
“Setiap kawasan memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda. Karena itu investasi yang masuk harus disesuaikan dengan kondisi dan sumber daya yang tersedia agar memberikan manfaat optimal bagi masyarakat maupun investor,” ujarnya, Selasa 23 Juni 2026.
Menurut Suharmaji, wilayah barat lebih diarahkan untuk mendukung pengembangan sektor pertanian, sementara kawasan lain disesuaikan dengan potensi yang dimiliki, termasuk ketersediaan sumber daya air dan kondisi lingkungan. Kebijakan tersebut juga sejalan dengan program Sumbawa Lestari yang saat ini menjadi salah satu fokus pembangunan daerah.
Melalui program tersebut, pemerintah berupaya menjaga dan mengembangkan sumber-sumber mata air yang diharapkan mampu menopang pertumbuhan ekonomi masyarakat, termasuk di kawasan yang menjadi tujuan investasi. Dalam tiga hingga empat tahun ke depan, keberadaan sumber air yang memadai diharapkan dapat memperkuat daya tarik investasi di Kabupaten Sumbawa.
Untuk kawasan Kota Sumbawa Besar, pemerintah tidak mendorong masuknya investasi berupa kawasan industri skala besar. Sebaliknya, investasi yang diharapkan lebih mengarah pada sektor perdagangan dan jasa yang mendukung kebutuhan masyarakat perkotaan.
“Untuk Kota Sumbawa Besar, investasi yang kita harapkan misalnya pusat perbelanjaan atau fasilitas pendukung ekonomi lainnya. Sementara di luar kota, investasi akan disesuaikan dengan potensi masing-masing wilayah,” jelasnya.
Meski peluang investasi terbuka lebar, Suharmaji mengakui bahwa persoalan lahan masih menjadi tantangan terbesar yang dihadapi pemerintah daerah. Investor umumnya memiliki kriteria tertentu terkait lokasi, luas, maupun peruntukan lahan yang sering kali belum dapat dipenuhi secara optimal.
Ia mencontohkan lahan milik pemerintah daerah seluas sekitar 300 hektare di kawasan Teluk Santong yang telah disiapkan untuk pengembangan kawasan industri, pelabuhan, dan kegiatan ekonomi berskala besar. Namun, tidak semua investor yang datang memiliki rencana usaha yang sesuai dengan peruntukan lahan tersebut.
“Kendala pertama kita adalah ketersediaan lahan pemerintah daerah yang sesuai dengan kebutuhan investor. Kadang kita memiliki lahan dengan peruntukan tertentu, tetapi investasi yang masuk justru membutuhkan kondisi yang berbeda,” katanya.
Sebagai contoh, lanjut Suharmaji, investor yang bergerak di bidang peternakan membutuhkan dukungan sumber air dan karakteristik lahan yang berbeda dengan kawasan yang telah disiapkan untuk pengembangan industri. Ketidaksesuaian tersebut kerap menjadi hambatan dalam proses realisasi investasi.
Meski demikian, pemerintah daerah meyakini seluruh kecamatan di Kabupaten Sumbawa memiliki peluang investasi yang dapat dikembangkan berdasarkan potensi lokal. Salah satu contohnya adalah sektor kopi di wilayah Batulanteh yang dinilai memiliki prospek besar apabila didukung penguatan rantai ekonomi hingga mampu menghasilkan produk siap ekspor.
“Kalau jaringan ekonomi kopi bisa dibangun dari hulu sampai hilir, termasuk pengolahan menjadi produk siap ekspor, maka itu akan menjadi investasi yang sangat menarik,” ujarnya.
Untuk meningkatkan minat investor, Pemkab Sumbawa telah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Diantaranya penyusunan buku investasi daerah, penyampaian informasi peluang investasi kepada kementerian dan lembaga, promosi melalui berbagai komunitas investasi, hingga memperkenalkan potensi daerah dalam berbagai forum nasional.
Selain itu, pemerintah juga mulai menjajaki peluang investasi baru yang dinilai memiliki prospek ekonomi bagi masyarakat. Salah satunya adalah rencana investasi pengolahan pelet berbahan baku tanaman gamal yang saat ini tengah memasuki tahap pra-feasibility study (pra-FS) dengan dukungan investor dari Jepang.
Suharmaji berharap berbagai upaya tersebut dapat mempercepat masuknya investasi ke Kabupaten Sumbawa. Sekaligus menciptakan nilai tambah bagi potensi lokal, yang selama ini belum tergarap secara maksimal.
“Harapan kita, investor yang masuk dapat berkembang bersama masyarakat dan memanfaatkan potensi daerah secara optimal sehingga memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi Kabupaten Sumbawa,” tegasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....