SPMB Jenjang SMA Berjalan Lancar, Jalur Domisili Dibuka 20 Juni 2026

  • 15 Jun 2026 15:40 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memastikan pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jenjang SMA tahun 2026 berjalan tanpa kendala berarti
  • Tiga jalur pendaftaran, yakni afirmasi, mutasi, dan prestasi telah rampung, sementara jalur domisili akan menjadi tahap terakhir yang dibuka mulai 20 Juni 2026
  • Dikpora NTB juga menyiapkan mekanisme pengawasan untuk mencegah adanya praktik manipulasi data dalam jalur domisili, seperti perubahan alamat tempat tinggal yang tidak sesuai kondisi sebenarnya

RRI.CO.ID, Mataram - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memastikan pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jenjang SMA tahun 2026 berjalan tanpa kendala berarti. Tiga jalur pendaftaran, yakni afirmasi, mutasi, dan prestasi telah rampung, sementara jalur domisili akan menjadi tahap terakhir yang dibuka mulai 20 Juni 2026.

Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikpora) NTB, Muazam, mengatakan proses SPMB hingga saat ini berjalan normal. Pemerintah daerah, kata dia, terus berupaya memastikan seluruh masyarakat mendapatkan layanan pendidikan sesuai kebutuhan.

“Alhamdulillah, sampai saat ini proses berjalan normal, berjalan baik. Semua masyarakat kita upayakan terlayani apa yang dibutuhkan untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang ada, terutama sekolah terdekat,” ujar Muazam saat dikomfirmasi RRI Mataram, Senin, 15 Juni 2026.

Ia menjelaskan, jalur prestasi yang menjadi salah satu tahapan awal SPMB telah selesai dilaksanakan dan saat ini tinggal menunggu pengumuman hasil seleksi. Menurut Muazam, pertanyaan dari masyarakat yang muncul selama pendaftaran lebih banyak terkait batas nilai dan mekanisme seleksi, bukan berupa keberatan atau protes.

“Kalau protes sebenarnya tidak ada. Lebih banyak pertanyaan apakah bisa atau tidak, berapa batas minimalnya. Semua kita layani, kita juga menyediakan posko pengaduan untuk membantu masyarakat,” katanya.

Setelah jalur afirmasi, mutasi, dan prestasi selesai, tahapan berikutnya adalah jalur domisili yang sebelumnya dikenal sebagai jalur zonasi. Jalur ini akan dibuka pada 20 Juni 2026.

Muazam meminta masyarakat mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan dan memilih sekolah yang sesuai dengan tempat tinggal. Ia mengingatkan agar orang tua tidak memaksakan anak masuk ke sekolah tertentu hanya karena label sekolah favorit.

“Kami pesankan kepada adik-adik yang akan bersekolah, sekolah itu di mana saja insyaallah mutunya sudah merata. Tidak perlu harus ke sekolah A atau sekolah B. Carilah sekolah terdekat dengan domisilinya,” ujarnya.

Dikpora NTB juga menyiapkan mekanisme pengawasan untuk mencegah adanya praktik manipulasi data dalam jalur domisili, seperti perubahan alamat tempat tinggal yang tidak sesuai kondisi sebenarnya.

Muazam mengatakan masyarakat dapat melaporkan dugaan pelanggaran melalui hotline pengaduan yang telah disediakan. Setiap laporan akan diverifikasi dan ditindaklanjuti sesuai aturan.

“Kalau ada pengaduan, nanti kita cek ke bawah, kita lakukan klarifikasi. Kita akan memastikan semua berjalan sesuai aturan yang sudah ditetapkan,” katanya.

Selain pengawasan, pemerintah juga memastikan kelompok masyarakat kurang mampu tetap mendapat kesempatan melalui jalur afirmasi. Jalur ini diperuntukkan bagi calon peserta didik yang memiliki dokumen resmi sebagai penerima hak afirmasi, seperti pemegang Program Keluarga Harapan (PKH).

“Di jalur afirmasi mereka bersaing antar sesama afirmasi. Jadi tidak bercampur dengan jalur prestasi. Yang dilihat adalah dokumen ketidakmampuannya sesuai aturan,” jelas Muazam.

Untuk jalur afirmasi sendiri, kuota yang disediakan mencapai 30 persen dari penerimaan peserta didik baru. Dikpora NTB berharap pelaksanaan SPMB tahun ini dapat berjalan transparan dan memberikan kesempatan yang adil bagi seluruh calon peserta didik baru di NTB.

Pemerintah juga menegaskan tidak ada lagi istilah sekolah favorit dan nonfavorit karena peningkatan kualitas pendidikan terus dilakukan secara merata. “Kita upayakan tidak ada istilah sekolah favorit dan tidak favorit, karena mutu sekolah sudah kita dorong agar setara,” kata Muazam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....