Campur Kode dan Alih Kode Jadi Fenomena Umum di Masyarakat Multibahasa
- 09 Jun 2026 12:08 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Fenomena campur kode dan alih kode semakin sering ditemukan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kondisi ini terjadi karena masyarakat Indonesia hidup dalam lingkungan yang kaya akan keberagaman bahasa.
Baiq Jihan Wanasatya, dalam dialog Berugak Kita ,Selasa,9 Juni 2026, mengatakan bahwa salah satu fenomena kebahasaan yang paling menonjol dalam beberapa tahun terakhir adalah semakin maraknya penggunaan campur kode, alih kode, dan bahasa gaul di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.
Campur kode terjadi ketika seseorang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama namun menyisipkan unsur bahasa lain di dalam percakapannya. Contohnya seperti penggunaan kata "meeting", "deadline", "submit", atau "feedback" dalam kalimat berbahasa Indonesia.
Fenomena tersebut semakin sering ditemukan seiring meningkatnya interaksi masyarakat dengan berbagai konten global melalui internet. Generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan yang multibahasa. Mereka menggunakan Bahasa Indonesia dalam aktivitas formal, bahasa daerah dalam lingkungan keluarga, dan bahasa asing saat mengakses berbagai platform digital.Selain campur kode, masyarakat Indonesia juga akrab dengan fenomena alih kode.
Dalam satu percakapan seseorang dapat berpindah dari Bahasa Indonesia ke bahasa daerah atau sebaliknya sesuai dengan situasi dan lawan bicara yang dihadapi.Di Nusa Tenggara Barat misalnya, masyarakat kerap menggunakan Bahasa Indonesia dalam komunikasi umum, namun beralih ke bahasa Sasak ketika berbicara dengan sesama penutur bahasa tersebut.
Pergantian bahasa ini biasanya dilakukan untuk menciptakan kedekatan sosial dan rasa kebersamaan.Tidak hanya itu, bahasa gaul juga berkembang sangat pesat. Berbagai istilah seperti "relate", "healing", "gas", "auto paham", hingga berbagai ungkapan viral lainnya menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari generasi muda.
Para ahli menilai fenomena ini merupakan bentuk kreativitas masyarakat dalam berbahasa. Setiap generasi pada dasarnya memiliki ragam bahasa khas yang mencerminkan zamannya. Yang membedakan saat ini adalah kecepatan penyebaran istilah baru yang didukung oleh teknologi digital dan media sosial.
Meski demikian, masyarakat diingatkan agar tetap mampu membedakan penggunaan bahasa sesuai konteks sehingga bahasa gaul dan campur kode tidak mengurangi kualitas komunikasi dalam lingkungan formal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....