BMKG Ungkap Alasan NTB Kini Lebih Dingin saat Musim Kemarau Tiba
- 09 Jun 2026 07:10 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Barat – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Nusa Tenggara Barat memprediksi sebagian besar wilayah NTB akan menghadapi musim kemarau yang semakin kering dalam beberapa pekan ke depan. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung hingga memasuki awal Juli 2026 seiring berkurangnya intensitas hujan di berbagai daerah.
Anggota Tim Diseminasi dan Informasi BMKG NTB, I Gede Widi Hariarta, menjelaskan berdasarkan analisis cuaca terbaru, curah hujan pada Dasarian II Juni 2026 mulai menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan.
"Untuk sepuluh hari ke depan atau Dasarian II Juni, curah hujan di sebagian besar wilayah NTB diperkirakan berada di bawah 50 milimeter dengan peluang sekitar 10 hingga 20 persen. Persentase ini akan terus menurun secara bertahap hingga Dasarian I Juli 2026," ujar Dedik saat ditemui RRI di kantor BMKG NTB Kediri, Lombok Barat. Senin 8 Mei 2026.
Menurut Widi, hampir seluruh wilayah NTB saat ini telah memasuki musim kemarau. Namun masih terdapat sebagian kecil kawasan yang belum sepenuhnya beralih musim.
"Saat ini hampir seluruh NTB sudah masuk musim kemarau. Hanya sebagian wilayah Lombok bagian tengah yang berdasarkan pembaruan data per 1 Juni 2026 masih berada dalam kategori musim hujan," katanya.
Ia menjelaskan, salah satu indikator utama masuknya musim kemarau adalah perubahan pola angin muson yang kini bertiup dari Australia menuju Asia. Pola angin tersebut membawa massa udara yang lebih kering dan dingin ke wilayah Indonesia, termasuk NTB.
"Masuknya musim kemarau ditandai oleh angin muson timur yang berasal dari Australia menuju Asia. Angin ini membawa udara dingin dan kering sehingga suhu udara, terutama pada malam hari, terasa lebih rendah dibandingkan saat musim hujan," tegasnya.
Fenomena tersebut terjadi karena Australia saat ini sedang mengalami musim dingin atau winter. Udara dingin yang terbawa angin muson kemudian memengaruhi kondisi atmosfer di wilayah NTB.
Selain faktor angin, berkurangnya tutupan awan juga menjadi penyebab suhu udara terasa lebih dingin selama musim kemarau.
| Baca juga: Cuaca Cerah hingga Berawan Sepanjang Hari |
"Saat musim kemarau, jumlah awan lebih sedikit sehingga panas dari permukaan bumi lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer. Berbeda ketika musim hujan, awan berfungsi menahan panas sehingga suhu udara terasa lebih hangat," ucapnya.
BMKG juga mencermati perkembangan fenomena El Nino yang masih berada pada kategori moderat dengan nilai indeks sekitar +1,0. Kondisi ini berpotensi memperkuat musim kemarau dan mengurangi curah hujan di wilayah NTB.
"El Nino menyebabkan berkurangnya pembentukan awan hujan di Indonesia, termasuk NTB. Dampaknya musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dibandingkan kondisi normal," katanya.
Meski demikian, BMKG memperkirakan intensitas El Nino akan berangsur melemah dalam beberapa bulan mendatang. Namun dampaknya terhadap penurunan curah hujan masih perlu diwaspadai oleh masyarakat dan pemerintah daerah.
Widi mengingatkan bahwa kondisi tersebut berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, khususnya kekeringan dan krisis ketersediaan air di sejumlah wilayah NTB.
"Kami mengimbau masyarakat untuk mulai mengantisipasi kemungkinan kekeringan dan keterbatasan sumber air. Bagi petani yang akan melakukan penanaman, sebaiknya memilih komoditas yang membutuhkan air relatif sedikit agar risiko gagal panen dapat diminimalkan," katanya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....