Nelayan Tradisional Bantu Jaga Kelestarian Teluk Saleh

  • 04 Jun 2026 15:56 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Sumbawa – Aktivitas nelayan tradisional di kawasan Teluk Saleh dinilai tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat pesisir. Aktivitas nelayan tradisional juga turut membantu menjaga keberlanjutan sumber daya alam laut, yang menjadi aset penting Kabupaten Sumbawa.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sumbawa, Rahmat Hidayat, S.Pi., M.T., mengatakan keberadaan nelayan tradisional memiliki kontribusi besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Terutama melalui praktik penangkapan ikan yang ramah lingkungan. Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong nelayan untuk mempertahankan pola penangkapan yang tidak merusak sumber daya perikanan maupun habitat laut.

Menurut Dayat akrabnya disapa, salah satu langkah yang dilakukan pemerintah adalah mengedukasi masyarakat nelayan agar tidak menggunakan alat maupun metode penangkapan yang dilarang. Seperti bom ikan, potasium, dan berbagai bentuk penangkapan ilegal lainnya yang dapat merusak ekosistem laut.

“Nelayan terus kami dorong untuk melakukan penangkapan ikan secara ramah lingkungan. Tidak menggunakan potasium, bom ikan, maupun cara-cara lain yang dilarang. Itu salah satu upaya yang kita lakukan,” ujarnya, Kamis 4 Juni 2026.

Ia menjelaskan, pengelolaan wilayah laut dari 0 hingga 12 mil berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi. Hal ini sesuai amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Pemerintah Kabupaten Sumbawa tetap berupaya memberikan dukungan kepada masyarakat nelayan sesuai kewenangan yang dimiliki.

Salah satu bentuk dukungan tersebut dilakukan melalui pengembangan usaha perikanan budidaya, sebagai alternatif sumber pendapatan masyarakat pesisir. DKP Kabupaten Sumbawa mendorong nelayan tradisional untuk tidak hanya bergantung pada hasil tangkapan laut, tetapi juga mengembangkan sektor budidaya yang memiliki prospek ekonomi menjanjikan.

Beberapa komoditas yang didorong untuk dikembangkan antara lain budidaya rumput laut, keramba jaring apung (KJA), mutiara, lobster, dan berbagai usaha perikanan budidaya lainnya yang sesuai dengan potensi kawasan Teluk Saleh.

“Selain melakukan usaha penangkapan, nelayan juga kami dorong untuk mengembangkan aktivitas perikanan budidaya. Dengan keterbatasan kewenangan yang dimiliki kabupaten, itu yang bisa kami lakukan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan,” katanya.

Dayat menambahkan, pemerintah daerah juga telah menyalurkan sejumlah bantuan untuk mendukung aktivitas nelayan di kawasan Teluk Saleh. Bantuan tersebut berupa jaring, alat tangkap, coolbox, dan berbagai sarana pendukung lainnya.

Namun demikian, keterbatasan anggaran daerah membuat jumlah bantuan yang dapat diberikan masih relatif terbatas. Karena itu, pihaknya terus berupaya memperjuangkan dukungan pendanaan dari pemerintah pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) guna meningkatkan kapasitas dan produktivitas nelayan.

“Kami terus berupaya mendapatkan bantuan dari APBN untuk mendukung peningkatan kapasitas nelayan, sehingga mereka dapat mengembangkan usaha secara lebih baik,” ungkapnya.

Lebih lanjut Dayat menegaskan bahwa keberlanjutan sumber daya perikanan di Teluk Saleh merupakan tanggung jawab bersama. Ia mengingatkan seluruh nelayan agar menjaga potensi laut yang ada sehingga dapat terus dimanfaatkan oleh generasi mendatang.

Menurutnya, Teluk Saleh merupakan salah satu kawasan strategis perikanan di Nusa Tenggara Barat yang memiliki kekayaan sumber daya laut melimpah. Oleh karena itu, praktik penangkapan yang bertanggung jawab menjadi kunci untuk menjaga produktivitas perairan tersebut dalam jangka panjang.

“Kami mengimbau nelayan di Teluk Saleh untuk menjaga sumber daya yang ada agar tetap berkelanjutan. Jangan lagi ada aktivitas penangkapan ikan secara ilegal, karena hal itu dapat merugikan lingkungan dan masyarakat nelayan sendiri,” tegasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....