Ini Strategi BPBD Lombok Timur Hadapi Ancaman Kemarau

  • 02 Jun 2026 20:52 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Timur - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Timur menyiapkan sejumlah langkah antisipasi menghadapi musim kemarau tahun 2026 yang diprediksi berlangsung lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ini termasuk meningkatkan koordinasi dengan berbagai pihak.

Kepala Pelaksana BPBD Lombok Timur, Lalu Mulyadi, mengatakan berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau tahun 2026 memiliki karakteristik yang mirip dengan tahun sebelumnya. Namun, intensitasnya diperkirakan tidak akan separah kemarau pada tahun tersebut.

“Ancaman kemarau tahun ini memang cukup panjang. Mulainya lebih cepat dan berakhir lebih lama. Tetapi yang patut disyukuri, intensitasnya tidak berada pada level tinggi, melainkan rendah hingga sedang,” ujarnya. Selasa, 2 Juni 2026.

Menurutnya, musim kemarau di Lombok Timur mulai terasa sejak awal April 2026, dengan puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang. Untuk mengantisipasi dampaknya, BPBD telah dua kali menggelar rapat koordinasi bersama berbagai pihak terkait.

BPBD juga telah menyiapkan lima unit armada tangki air yang siap digunakan sewaktu-waktu apabila masyarakat membutuhkan pasokan air bersih. Sejumlah sumber air potensial untuk pengisian armada tersebut juga telah dipetakan, di antaranya di wilayah, Labuhan Haji, dan Jerowaru.

Meski demikian, BPBD memperkirakan jumlah warga terdampak akan lebih rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hal ini didukung oleh mulai beroperasinya Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Pantai Selatan yang telah menjangkau sejumlah wilayah, termasuk Desa Ekas dan Sekaroh.

“Kalau terjadi kemarau, dampaknya insyaAllah tidak akan separah tahun-tahun sebelumnya karena sekarang sudah ada SPAM Pantai Selatan dan pembangunan sumur bor di beberapa lokasi,” jelasnya.

BPBD memprediksi daerah yang masih berpotensi mengalami kekurangan air bersih berada di lima kecamatan, yakni Kecamatan Jerowaru, Keruak, Sakra Timur, Sambelia, dan Sembalun. Namun kondisi tersebut lebih berupa potensi kekurangan air bersih pada waktu tertentu, bukan kategori bencana yang parah.

Untuk mempercepat distribusi bantuan, BPBD berencana menempatkan tandon-tandon air bersih di wilayah rawan. Dengan cara ini, masyarakat dapat langsung mengambil air tanpa harus menunggu distribusi dari pusat kota Selong.

“Setiap tandon memiliki kapasitas sekitar 5.400 liter sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat kapan saja saat membutuhkan,” ucapnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....