Masuk Tahun ke-26, Tradisi Kurban Massal di Kelayu Lombok Timur Kian Meriah
- 27 Mei 2026 14:42 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Sebanyak 40 ekor sapi di kurban oleh warga Kelayu, Selong, Lombok Timur.
- Ketua Panitia Ibadah Kurban Masjid Al-Umary, Muhammad Yani QH, mengatakan tradisi kurban massal tersebut telah memasuki tahun ke-26 pelaksanaan. “
RRI.CO.ID, Lombok Timur - Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di Desa Kelayu, Kelurahan Selong, Kabupaten Lombok Timur, bukan sekadar perayaan keagamaan. Momentum tahunan itu telah menjelma menjadi ruang merawat kebersamaan, gotong royong, sekaligus menjaga warisan sosial dan spiritual masyarakat setempat.
Ribuan warga memadati Masjid Al-Umary untuk melaksanakan salat Idul Adha, Selasa, 27 Mei 2026. Selepas salat, halaman masjid kembali dipenuhi aktivitas penyembelihan hewan kurban secara massal yang sudah berlangsung selama lebih dari dua dekade.

Tahun ini, panitia mencatat sebanyak 40 ekor sapi disembelih. Seluruh hewan kurban berasal dari partisipasi warga Kelayu, baik yang tinggal di kampung halaman maupun yang merantau ke luar daerah.
Ketua Panitia Ibadah Kurban Masjid Al-Umary, Muhammad Yani QH, mengatakan tradisi kurban massal tersebut telah memasuki tahun ke-26 pelaksanaan. “Alhamdulillah, tahun ini Masjid Al-Umary kembali menyembelih 40 hewan kurban sapi yang terkumpul dari masyarakat secara swadaya. Ini menjadi bukti nyata bahwa semangat berbagi dan kepedulian sosial di Kelayu masih sangat tinggi,” ujar Yani di sela kegiatan.
Panitia mencatat jumlah penerima daging kurban atau mustahiq mencapai 3.543 orang. Sebanyak 2.053 orang berasal dari Kelayu Selatan dan 1.490 orang dari Kelayu Utara. Sementara jumlah pekurban mencapai 280 orang.
Menurut Yani, tradisi kurban massal itu terus dipertahankan sebagai simbol kebersamaan yang diwariskan para pendahulu masyarakat Kelayu.
“Memasuki tahun ke-26 pelaksanaan kurban, alhamdulillah kita tetap mampu mempertahankan tradisi ini sebagai simbol kebersamaan dan jiwa gotong royong yang terus dirawat,” katanya.
Tradisi itu juga menjadi magnet bagi warga Kelayu yang tinggal di luar daerah untuk pulang kampung saat Idul Adha. Salah satunya Ema, warga asal Kelayu yang kini menetap di Mataram.
Ia mengaku sengaja pulang untuk mengikuti kurban bersama di Masjid Al-Umary sekaligus bersilaturahmi dengan keluarga besar.
“Saya sengaja pulang untuk ikut berkurban di Masjid Al-Umary. Sekalian ingin berlebaran dan bertemu sanak famili,” ujarnya.
Menurut dia, semangat gotong royong yang terus bertahan menjadi alasan masyarakat tetap antusias mengikuti tradisi tersebut dari tahun ke tahun.
“Acara berkurbannya keren, di sini selalu terbanyak setiap tahun. Semoga terus ada dan lestari,” kata Ema.
Bagi masyarakat Kelayu, Masjid Al-Umary memiliki nilai historis dan spiritual yang kuat. Masjid itu diyakini sebagai bagian dari warisan perjuangan Tuan Guru Umar Kelayu atau Datok Umar, ulama kharismatik yang dikenal luas di Tanah Sasak.
Nama Al-Umary yang disematkan pada masjid menjadi simbol penghormatan terhadap sanad keilmuan dan pengabdian Datok Umar kepada umat.
“Melaksanakan ibadah kurban dan bergotong royong di masjid ini memiliki ikatan emosional dan spiritual yang kuat bagi kami. Ini adalah tempat ibadah yang dirintis oleh Datok Umar sebagai simbol persatuan umat,” ujar warga Kelayu lainnya, M. Saleh.
Menurut Saleh, semangat kebersamaan yang diwariskan Datok Umar masih terpelihara hingga kini. Masjid Al-Umary tak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga ruang sosial yang mempersatukan masyarakat tanpa memandang golongan maupun organisasi.
“Ini adalah cara kami merawat kebersamaan, kekompakan, dan menghormati sejarah besar beliau sebagai tokoh agama yang disegani,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....