Ngaha Kawiri Warnai Peringatan Tahun Baru Hijriyah di Dompu

  • 15 Jun 2026 10:28 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu - Sedekah, makan dan mencuci diri menjadi bagian dari tradisi masyarakat dalam menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam atau yang di tanah Jawa dikenal dengan sebutan Suroan. Ritual yang berbalut budaya dan tradisi itu hingga kini masih terus hidup di tengah masyarakat.

Di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, peringatan Tahun Baru Hijriah tidak hanya diisi kegiatan keagamaan semata, tetapi juga diramaikan berbagai tradisi dan budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu tradisi yang masih bertahan hingga kini adalah Ngaha Kawiri atau makan bubur bersama. Tradisi ini dilakukan masyarakat sebagai bentuk ikhtiar mencari keberkahan, termasuk saat memasuki bulan Muharam.

Wakil Rois Suriyah PCNU Kabupaten Dompu, KH. Jaidun Ismail mengatakan, Ngaha Kawiri sejatinya merupakan bagian dari sedekah yang bertujuan mengharap keberkahan dari Allah SWT.

“Tradisi ini merupakan akulturasi budaya antara Islam dengan tradisi leluhur masyarakat Dompu. Sudah dilakukan turun-temurun sejak Islam masuk ke Dana Ngahi Rawi Pahu,” ujarnya, Senin, 15 Juni 2026.

Menurut KH. Jaidun Ismail, berbagai ritual dan tradisi yang dijalankan masyarakat pada momentum Muharam pada dasarnya bukan tujuan utama, melainkan sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar meluruskan niat sebelum menjalankan setiap tradisi maupun ritual budaya yang ada.

“Apapun kegiatan yang dilakukan dengan balutan tradisi dan budaya, tujuannya tetap mencari ridho Allah SWT. Tradisi dan ritual itu alat, bukan tujuan,” katanya.

Ngaha Kawiri sendiri merupakan tradisi kuno masyarakat Dompu berupa makan bubur bersama, khususnya melibatkan anak-anak. Tradisi ini dipercaya sebagai bentuk doa dan harapan agar masyarakat terhindar dari musibah maupun bencana.

Selain itu, tradisi tersebut juga menjadi wujud rasa syukur atas keselamatan serta berbagai pencapaian pembangunan yang dirasakan masyarakat.

Bubur yang disajikan dalam tradisi Ngaha Kawiri melambangkan kesederhanaan dan kebersamaan. Sementara doa anak-anak yang dianggap lebih makbul menjadi inti dari pelaksanaan tradisi tersebut.

Tradisi ini juga menjadi warisan budaya masyarakat Dompu yang sarat nilai spiritual dan sosial, sekaligus mencerminkan harapan akan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠Meski zaman terus berkembang, tradisi-tradisi lokal seperti Ngaha Kawiri tetap bertahan dan menjadi perekat nilai kebersamaan, spiritualitas, serta identitas budaya di tengah masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....