Petani Dompu Diminta Segera Jual Jagung Usai Panen

  • 21 Mei 2026 11:15 WIB
  •  Mataram

RRI CO.ID, Dompu - Pemerintah Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, menyarankan para petani jagung agar segera menjual hasil panennya setelah melalui proses pasca panen.

Menimbun jagung dengan harapan harga akan naik dinilai justru dapat merugikan petani karena kualitas dan bobot jagung berpotensi menurun.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Syahrul Ramadhan, mengatakan, penurunan kualitas jagung akibat penyimpanan terlalu lama kerap membuat harga jual tidak lagi sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah.

Menurutnya, pemerintah melalui Bulog kini sudah mulai melakukan penyerapan jagung petani. Bahkan, alokasi serapan jagung untuk wilayah Kabupaten Dompu tahun ini jauh lebih besar dibanding tahun sebelumnya.

“Untuk Kabupaten Dompu mendapat alokasi serapan sebesar 19.600 ton dengan harga sesuai HAP mencapai Rp6.400 per kilogram kering panen,” ujarnya, Kamis, 21 Mei 2026.

Ia menjelaskan, jagung yang dapat diserap Bulog harus memenuhi standar, yakni dalam kondisi pipil kering dengan kadar air maksimal 14 persen serta bebas dari kontaminasi zat berbahaya.

Karena itu, petani diminta tidak khawatir menjual hasil panennya.

"Selama memenuhi syarat pembelian sesuai HAP, Bulog dipastikan siap menampung hasil panen petani," katanya.

Selain gudang Bulog Dorotangga, fasilitas Corn Drying Center (CDC) di Kecamatan Manggelewa juga telah mendukung penyerapan jagung petani. CDC yang dibangun tahun 2020 dan mulai resmi beroperasi menyerap jagung petani pada 2024 tersebut memiliki kapasitas penyimpanan mencapai 9 ribu ton yang terbagi dalam tiga silo.

Fasilitas itu juga didukung kapasitas pengering mencapai 240 ton per hari sehingga membantu petani mendapatkan kualitas jagung sesuai standar pembelian pemerintah.

Tidak hanya Bulog, terdapat pula tiga perusahaan swasta yang sejak jagung menjadi komoditas unggulan daerah pada 2010, intens menyerap hasil panen jagung petani Dompu.

Syahrul Ramadhan menambahkan, turunnya harga jagung di tingkat petani yang tidak sesuai HAP umumnya dipengaruhi beberapa faktor, terutama kadar air dan kadar hampa.

Karena itu, petani diminta lebih jeli dalam melakukan perawatan dan pengolahan pasca panen agar kualitas jagung tetap terjaga.

“Kalau petani melakukan perawatan dengan baik dan memenuhi standar kualitas, maka jagungnya akan dibeli sesuai HAP,” ungkapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....