Kemarau Ekstrem Tidak Berdampak Stok Pangan

  • 07 Sep 2026 15:46 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu – Kenaikan harga beras sekitar lima tahun silam perlahan mengubah pola petani di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, dalam menjaga ketersediaan pangan. Tradisi menyimpan hasil panen melalui Jompa, lumbung pangan tradisional masyarakat Dompu, kembali dihidupkan setelah puluhan tahun mulai ditinggalkan.

Namun, Jompa yang digunakan masyarakat saat ini tidak lagi identik dengan bangunan klasik berbahan kayu. Konsep penyimpanan hasil panen mulai disesuaikan dengan perkembangan zaman, dengan memanfaatkan bangunan dan fasilitas penyimpanan yang lebih modern.

Tradisi tersebut dinilai kembali penting, terutama di tengah ancaman kemarau panjang yang berpotensi mengganggu produksi dan ketersediaan pangan.

Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Dompu, Mauluddin, mengatakan cadangan pangan masyarakat menjadi salah satu kekuatan daerah dalam menghadapi kondisi tersebut.

Saat ini, stok beras yang tersedia di Gudang Bulog Dorotangga mencapai 2.060.794 kilogram. Jumlah tersebut belum termasuk cadangan gabah dan beras yang disimpan masyarakat, baik di rumah, gudang pribadi maupun gudang kelompok tani.

“Selama ini masyarakat Dompu juga memiliki kebiasaan menyimpan gabah sebagai cadangan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, termasuk menghadapi masa tanam berikutnya,” katanya, Senin, 7 September 2025.

Menurutnya, pola penyimpanan pangan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat. Dengan cadangan yang dimiliki, kebutuhan beras tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan pasar setiap saat.

Selain stok yang tersimpan di Bulog dan masyarakat, pemerintah juga telah menyalurkan bantuan pangan kepada masyarakat. Sebanyak 36.572 Penerima Bantuan Pangan (PBP) mendapatkan bantuan berupa 10 kilogram beras per bulan.

“Total beras yang disalurkan mencapai 1.097.160 kilogram. Penyaluran berlangsung pada 24 hingga 29 Agustus 2026,” katana.

Kondisi tersebut membuat pemerintah optimistis kemarau panjang tidak akan serta-merta memicu krisis pangan, khususnya beras. Keberadaan cadangan pangan melalui sistem penyimpanan masyarakat, termasuk Jompa, dinilai menjadi salah satu penyangga ketika produksi pertanian mengalami tekanan.

Di sisi lain, harga beras di Kabupaten Dompu saat ini masih relatif stabil, meski harga gabah mengalami sedikit peningkatan. Untuk beras premium, dijual dengan harga Rp15 rbu per kg.

Dompu juga memiliki modal produksi pangan yang cukup kuat. Produksi pangan daerah disebut mengalami surplus sekitar 40 persen. Kondisi ini menjadi alasan pemerintah meyakini kebutuhan beras masyarakat masih dapat dipenuhi meski musim kemarau berlangsung panjang.

Bagi masyarakat Dompu, Jompa kini tidak sekadar menjadi simbol tradisi masa lalu. Lumbung pangan tersebut kembali menemukan fungsi strategisnya sebagai cara masyarakat menyimpan hasil panen, menjaga cadangan pangan keluarga dan mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga beras di pasar.

Dengan kembali dihidupkannya tradisi tersebut dalam bentuk yang lebih modern, masyarakat diharapkan memiliki cadangan pangan yang cukup untuk menghadapi kemarau sekaligus menjaga stabilitas harga dan ketersediaan beras di Kabupaten Dompu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....