Ditengah Banjir Informasi, Peran Ulama di Media Sosial Semakin Krusial

  • 25 Apr 2026 20:38 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Peran Ulama di Media Sosial Semakin Krusial
  • peluncuran dan bedah buku Microselebritas Muslim: Strategi Dakwah Virtual Tuan Guru Lombok karya Suaeb Qury

RRI.CO.ID, Mataram - Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Abul Chair, mengatakan kehadiran ulama di ruang digital kini menjadi kebutuhan mendesak masyarakat. Di tengah derasnya arus informasi, publik dinilai membutuhkan figur yang mampu memberi arah sekaligus keteladanan.

‎Pernyataan itu disampaikan Abul Chair saat menjadi pembicara kunci dalam peluncuran dan bedah buku Microselebritas Muslim: Strategi Dakwah Virtual Tuan Guru Lombok karya Suaeb Qury di Auditorium UNU NTB, Sabtu, 25 April 2026.

‎Menurutnya, tantangan masyarakat saat ini bukan lagi keterbatasan akses informasi, melainkan kelebihan informasi yang tidak selalu disertai kualitas. “Kita menghadapi banjir informasi, tetapi juga krisis keteladanan. Di sinilah peran ulama menjadi penting,” ujarnya.

‎Abul Chair menilai, ruang digital telah menjadi arena baru yang tidak bisa dihindari. Tanpa kehadiran tokoh agama yang kredibel, ruang tersebut berpotensi diisi konten yang menyesatkan atau tidak mendidik. Karena itu, ia menegaskan, dakwah harus bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi.

‎“Kehadiran ulama yang mencerahkan di ruang digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan besar masyarakat. Teknologi boleh berubah, tetapi pesan kebaikan harus tetap hadir,” kata dia.

‎Fenomena munculnya “microselebritas muslim” di kalangan Tuan Guru di Lombok, menurut Abul Chair, menunjukkan bahwa sebagian ulama telah beradaptasi dengan perubahan zaman. Melalui media sosial dan platform digital, pesan-pesan keagamaan kini menjangkau generasi muda yang selama ini relatif jauh dari forum keagamaan konvensional.

‎Ia melihat perkembangan ini sebagai peluang strategis untuk memperluas jangkauan dakwah, terutama kepada kelompok milenial dan Generasi Z. Di sisi lain, kehadiran ulama di ruang digital juga dinilai mampu menjadi penyeimbang di tengah derasnya arus informasi yang tak terverifikasi.

‎Pemerintah Provinsi NTB, kata Abul Chair, memandang pembangunan tidak cukup hanya berfokus pada infrastruktur fisik. Aspek pembangunan manusia terutama karakter, moral, dan nilai-nilai sosial harus menjadi fondasi utama.

‎“Pembangunan daerah harus berjalan seimbang. Kita ingin NTB maju secara ekonomi, tetapi tetap kokoh dalam nilai. Modern, tetapi tidak tercerabut dari akar budaya,” ujarnya.

‎Peran pesantren dan organisasi keagamaan, lanjut dia, menjadi bagian penting dalam membentuk fondasi tersebut. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, ulama, akademisi, dan komunitas sosial dinilai perlu terus diperkuat.

‎Acara peluncuran buku tersebut juga dihadiri akademisi, mahasiswa, serta pegiat literasi. Buku karya Suaeb Qury itu, menurut Abul Chair, menjadi dokumentasi penting atas perubahan sosial yang sedang berlangsung di tengah masyarakat.

‎Ia berharap, karya tersebut tidak hanya menjadi catatan akademik, tetapi juga mampu menginspirasi generasi muda dalam memanfaatkan ruang digital secara produktif dan bertanggung jawab.

‎“Ini bukan sekadar buku, tetapi refleksi dari perubahan zaman. Semoga memperkuat budaya literasi dan menjadi rujukan bagi generasi mendatang,” kata Abul Chair.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....