Pemprov Gandeng Yayasan Asal Australia gelar Operasi Mata 5.000 Warga NTB

  • 21 Apr 2026 13:17 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Fred Hollows Foundation (FHF) yayasan asal Australia
  • Operasi mata warga NTB

‎RRI.CO.ID, Mataram - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menggandeng Fred Hollows Foundation (FHF) yayasan asal Australia untuk memperluas layanan kesehatan mata bagi masyarakat. Dalam program sosial terbarunya, lembaga tersebut menargetkan 5.000 penderita gangguan penglihatan untuk menjalani operasi mata di berbagai wilayah NTB.

‎Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, mengatakan sektor kesehatan menjadi salah satu fondasi utama pembangunan daerah, selain pendidikan dan infrastruktur. Karena itu, ia menyambut baik kolaborasi dengan FHF yang dinilai dapat memperkuat layanan kesehatan hingga tingkat desa.

‎“Kerja sama ini penting, apalagi Australia merupakan mitra dekat NTB. Kami berharap ada integrasi data dan roadmap penanganan kesehatan mata dari rumah sakit hingga ke desa bersama FHF,” ujar Iqbal saat menerima jajaran direksi FHF di Kantor Gubernur, Selasa, 21 April 2026.

‎Iqbal mengungkapkan, sekitar 12 ribu penderita gangguan penglihatan di NTB, termasuk katarak yang menjadi kasus terbanyak. Penanganannya, kata dia, memerlukan keterlibatan lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat dan daerah hingga organisasi sosial seperti Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS), serta dukungan 7.000 posyandu dan ratusan ribu kader kesehatan.

‎Manajer FHF, Alicia Godicky, mengatakan program yang dijalankan tidak hanya berfokus pada operasi mata, tetapi juga penguatan kapasitas tenaga kesehatan di tingkat puskesmas. “Kami akan memulai dari Puskesmas Bagu di Kota Mataram, lalu berlanjut ke sepuluh titik lainnya di NTB,” katanya.

Dalam kunjungan selama tiga hari, FHF bersama Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan NTB akan melakukan edukasi bagi tenaga kesehatan sekaligus menggelar bakti sosial operasi mata. Program ini juga menyasar berbagai kelompok usia, tidak terbatas pada lansia.

‎Alicia menambahkan, tren gangguan penglihatan kini meningkat pada usia sekolah, yang kerap tidak terdeteksi dan berdampak pada kemampuan belajar. “Pemeriksaan dini dan pemberian kacamata menjadi bagian penting dari intervensi,” ujarnya.

‎Program FHF di NTB telah berjalan sejak 2012 dan kini memasuki fase baru yang menekankan penguatan layanan berbasis komunitas. Upaya ini diharapkan mampu menekan angka kebutaan akibat katarak melalui deteksi dan penanganan lebih dini di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....