NTB Siapkan Sumur Bor hingga Tangki Air Antisipasi Kemarau Panjang dan Kering
- 15 Apr 2026 12:43 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Waspada Kemarau Panjang dan Kering
- Pemprov NTB
- NTB Siapkan Sumur Bor dan Tangki Air Antipasi Kemarau Panjang
RRI.CO.ID, Mataram - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Awal kemarau diperkirakan datang bertahap sejak April hingga Juni 2026, dengan puncak terjadi pada Agustus di sebagian besar wilayah Indonesia.
Mengantisipasi potensi kekeringan tersebut, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mulai menyiapkan langkah mitigasi sejak dini. Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, mengatakan kesiapan itu difokuskan pada pemenuhan kebutuhan air bersih dan sektor pertanian.
“BPBD sudah siap dari beberapa bulan lalu. Kita siapkan sumur bor dan kendaraan tangki air,” ujar Iqbal usai menghadiri halal bihalal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) NTB di Mataram, Rabu, 15 April 2026.
Ia menilai prediksi kemarau panjang tetap perlu diwaspadai, meskipun pengalaman tahun sebelumnya menunjukkan kondisi cuaca bisa berubah. “Mudah-mudahan dugaan kemarau panjang ini tidak terjadi. Tahun lalu juga diprediksi sama, tapi hujan datang lebih cepat,” kata dia.
Di sektor pertanian, pemerintah daerah mengandalkan program optimalisasi lahan (oplah) untuk menjaga produksi pangan. Program ini terutama menyasar lahan tadah hujan yang sebelumnya hanya mampu panen satu kali dalam setahun.
“Tahun 2025 ada sekitar 14 ribu hektare yang kita intervensi. Dari yang tadinya IP100, sekarang sudah bisa dua kali panen,” ujar Iqbal.
Menurutnya, ketersediaan air menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas produksi. Selama sistem irigasi dapat berfungsi dengan baik, pemerintah optimistis risiko kekurangan air untuk pertanian masih dapat ditekan.
“Mungkin tidak berlimpah, tapi cukup untuk memulai musim tanam,” katanya.
Selain infrastruktur, pemerintah juga mengandalkan peran penyuluh pertanian dan kelembagaan lokal dalam pengelolaan air (Pekasih). Iqbal menyebut pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan para penyuluh serta asosiasi pekasih yang berperan mengatur distribusi air di tingkat lapangan.
“Kita sudah briefing dengan penyuluh dan juga asosiasi pekasih, karena mereka yang mengatur saluran air,” ujarnya.
BMKG sebelumnya menyebutkan sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia akan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Variabilitas iklim global disebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat potensi kekeringan tahun ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....