Ekonomi NTB Tumbuh Berkualitas, Mobilitas Udara Jadi Indikator Utama
- 14 Apr 2026 08:48 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram — Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan tren yang tidak hanya membaik, tetapi juga semakin berkualitas dan berdaya tahan. Kondisi ini dinilai mencerminkan adanya transformasi struktur ekonomi daerah menuju basis yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Guru Besar Ekonomi Syariah FEBI UIN Mataram, Riduan Mas’ud, mengatakan bahwa peningkatan ekonomi NTB tidak cukup dilihat dari indikator makro semata seperti investasi dan konsumsi rumah tangga. Menurutnya, dinamika sektor riil, khususnya mobilitas manusia dan barang, justru menjadi indikator paling nyata dari geliat ekonomi.
“Salah satu indikator representatif adalah sektor transportasi udara. Ini mencerminkan langsung aktivitas ekonomi yang terjadi di masyarakat,” ujarnya, Selasa 14 Maret 2026.
Kinerja Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) menjadi gambaran konkret akselerasi ekonomi daerah. Sepanjang triwulan I 2026, jumlah penumpang tercatat mencapai 628.889 orang atau meningkat 24,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Riduan menilai, peningkatan trafik tersebut bukan sekadar angka transportasi, melainkan refleksi meningkatnya mobilitas ekonomi yang didorong sektor pariwisata, perdagangan, dan aktivitas bisnis lainnya.
Rute-rute strategis seperti Jakarta, Surabaya, Bali, Kuala Lumpur, hingga Yogyakarta mendominasi pergerakan penumpang. Hal ini menunjukkan semakin kuatnya konektivitas NTB dengan pusat-pusat ekonomi nasional dan regional.
“Konektivitas ini menjadi fondasi penting karena mempercepat arus barang, jasa, investasi, serta pergerakan tenaga kerja dan wisatawan,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi NTB tidak lagi bergantung pada sektor pertambangan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, jika sektor tambang bijih logam dikeluarkan, pertumbuhan ekonomi justru mencapai 8,33 persen secara kumulatif dan 13,7 persen secara tahunan.
Menurutnya, sektor non-tambang seperti pertanian, perdagangan, industri pengolahan, serta konsumsi rumah tangga kini menjadi motor utama pertumbuhan. Kondisi ini sekaligus menandakan terjadinya proses rebalancing ekonomi dari sektor ekstraktif ke sektor yang lebih berkelanjutan.
Dalam perspektif ekonomi, Riduan menjelaskan fenomena ini dapat dilihat dari berbagai teori. Teori pertumbuhan klasik menekankan pentingnya perluasan pasar, yang dalam konteks NTB didukung oleh meningkatnya konektivitas. Sementara teori neoklasik menempatkan infrastruktur seperti bandara sebagai faktor penting dalam akumulasi modal dan efisiensi ekonomi.
Selain itu, bandara juga dapat dipandang sebagai pusat pertumbuhan (growth pole) yang mendorong sektor lain seperti pariwisata, perhotelan, logistik, dan UMKM. Dari sisi teori Keynesian, peningkatan mobilitas tersebut juga menciptakan efek pengganda yang luas terhadap perekonomian daerah.
“Setiap peningkatan jumlah penumpang akan mendorong permintaan barang dan jasa, sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, kuatnya kinerja sektor non-tambang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi NTB mulai bersifat inklusif dan dirasakan oleh lapisan masyarakat yang lebih luas.
Ke depan, Riduan menilai tantangan utama adalah menjaga momentum pertumbuhan sekaligus meningkatkan kualitasnya. Penguatan sektor pertanian berbasis nilai tambah, pengembangan industri pengolahan, serta peningkatan kapasitas UMKM menjadi kunci utama.
Selain itu, optimalisasi konektivitas dan penguatan ekosistem pariwisata juga perlu terus didorong agar dampak ekonomi semakin luas.
“NTB saat ini berada di jalur yang tepat menuju transformasi ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....