11 Tahun TN Tambora, Fokus Konservasi Berbasis Manfaat Masyarakat
- 10 Apr 2026 15:55 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Dompu – Memasuki 11 tahun berdirinya Taman Nasional Tambora, pengelola kawasan terus memperkuat program strategis yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian alam, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar kawasan.
Kepala Balai Taman Nasional Tambora, Abdul Azis Bakry, mengatakan, arah pengelolaan kini bergerak dalam tiga pilar utama, yakni konservasi, pemberdayaan, dan kontribusi yang lebih luas bagi kesejahteraan masyarakat.
“Tambora sedang bergerak dalam konservasi, bergerak dalam pemberdayaan, dan bergerak menuju panggung yang lebih besar,” ujarnya, Jum'at, 10 April 2026.
Salah satu langkah konkret yang akan dilakukan adalah program penanaman 10 ribu pohon kemiri (Aleurites moluccanus) di zona khusus kawasan Tambora, tepatnya di wilayah So Tompo dan Karyasari. Program ini dirancang sebagai upaya jangka panjang yang memiliki dampak ekologis, sosial, dan ekonomi.
Secara ekologis, penanaman kemiri diharapkan mampu memperkuat fungsi kawasan sebagai daerah tangkapan air sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem. Dari sisi sosial, program ini melibatkan masyarakat sebagai bagian dari solusi pengelolaan kawasan konservasi.
Sementara dari aspek ekonomi, komoditas kemiri diyakini mampu membuka peluang usaha baru bagi warga sekitar, termasuk pengembangan usaha berbasis hasil hutan bukan kayu.
“Konservasi tidak boleh berhenti pada perlindungan semata, tetapi harus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” jelasnya.
Diketahui, So Tompo dan Karyasari merupakan dua kawasan pemukiman yang berada di zona khusus dalam Taman Nasional Tambora, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Kedua wilayah ini memiliki interaksi yang cukup intens dengan kawasan hutan.
Di So Tompo, terdapat sekitar 35 unit pemukiman dengan sekitar 90 kepala keluarga. Sebagian warga masih bergantung pada hasil hutan bukan kayu seperti madu, sa’bia, dan rotan.
Sementara di Karyasari, jumlah pemukiman lebih padat dengan sekitar 68 unit dan dihuni oleh sekitar 142 kepala keluarga. Aktivitas utama masyarakat di wilayah ini adalah pertanian dengan lahan garapan berkisar 1 hingga 2 hektare. Awalnya didominasi tanaman mente, namun sejak 2015 banyak beralih ke komoditas jagung.
Fenomena alih fungsi lahan menjadi kebun jagung di zona khusus Tambora menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pengelola kawasan, terutama karena dipicu tingginya nilai ekonomi jagung.
Kedua dusun tersebut berada di wilayah yang berbatasan langsung dengan pengelolaan Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Tambora.
Meski berstatus kawasan konservasi, sistem zonasi khusus tetap memberikan ruang bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup secara berkelanjutan.
Melalui program strategis ini, pengelola Taman Nasional Tambora berharap tercipta keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan peningkatan
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....