Kopi Tambora Dipertahankan Lewat Peremajaan dan Tumpang Sari
- 11 Jul 2026 07:11 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Dompu – Luas perkebunan kopi rakyat di lereng Gunung Tambora, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, terus mengalami penyusutan. Alih komoditas ke tanaman yang dinilai lebih menguntungkan seperti alpukat, durian, tembakau, hingga tanaman hortikultura lainnya menjadi salah satu penyebab berkurangnya areal kopi di Desa Tambora, Kecamatan Pekat.
Selain peralihan komoditas, perubahan kondisi lingkungan akibat berkurangnya tutupan hutan rakyat juga dinilai memengaruhi kelangsungan budidaya kopi. Meningkatnya suhu di sejumlah dusun di Desa Tambora menyebabkan sebagian lahan yang sebelumnya cocok untuk kopi kini tidak lagi produktif.
Untuk menjaga keberlanjutan produksi kopi khas Tambora, Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu terus melakukan program peremajaan tanaman kopi sejak tahun 2010.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Abdul Khair, mengatakan pemerintah bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI telah menyalurkan bantuan bibit kopi unggul kepada petani sebagai bagian dari program peremajaan kebun kopi rakyat.
"Program peremajaan dilakukan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan pengembangan Kopi Robusta Tambora yang menjadi salah satu komoditas unggulan daerah," ujarnya. Sabtu, 11 Juli 2026.
Ia menjelaskan, bantuan tersebut mencakup peremajaan tanaman kopi seluas 200 hektare di Desa Tambora yang tersebar di Dusun Garuda, Dusun Pancasila, dan Dusun Bhinneka. Program dilaksanakan secara bertahap, masing-masing seluas 100 hektare pada tahun 2020 dan 100 hektare pada tahun 2022.
Seluruh bantuan bibit unggul tersebut diperuntukkan bagi kebun kopi rakyat yang selama ini menjadi penopang utama produksi kopi Tambora.
Selain melakukan peremajaan tanaman, Dinas Pertanian juga menggandeng Balai Taman Nasional Tambora dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Tambora untuk melaksanakan rehabilitasi kawasan melalui penanaman pohon produktif.
Durian dan alpukat dipilih sebagai tanaman pelindung dengan sistem tumpang sari bersama tanaman kopi di lahan perkebunan rakyat.
Menurut Abdul Khair, penanaman pohon-pohon produksi tersebut diharapkan mampu mengembalikan keseimbangan ekosistem, menurunkan suhu lingkungan, serta menciptakan kondisi mikroklimat yang lebih sesuai bagi pertumbuhan tanaman kopi.
"Tanaman pelindung sangat penting untuk menjaga kelembapan dan suhu di kawasan perkebunan. Harapannya, kopi Tambora tetap dapat tumbuh dengan baik meski terjadi perubahan kondisi lingkungan," katanya.
Data Dinas Pertanian menunjukkan luas areal tanaman Kopi Robusta di kawasan Tambora mencapai sekitar 1.188 hektare, dengan sekitar 705 hektare di antaranya merupakan tanaman menghasilkan yang memiliki kualitas biji kopi cukup baik.
Pemerintah daerah berupaya mempertahankan keberadaan kopi Tambora, terutama di luar kawasan kebun inti. Sejumlah penelitian menunjukkan kawasan lereng Gunung Tambora memiliki karakter agroklimat yang mampu menghasilkan cita rasa kopi yang khas dan berkualitas tinggi.
Selain pengembangan di sektor budidaya, industri hilir kopi di kawasan lingkar Tambora juga mulai berkembang. Sejumlah pelaku usaha telah mengantongi izin usaha serta membangun merek kopi lokal sebagai upaya meningkatkan nilai tambah hasil produksi petani.
Pemerintah berharap pengembangan budidaya yang dibarengi tumbuhnya industri pengolahan dan pemasaran dapat memperkuat posisi Kopi Tambora Dipertahankan Lewat Peremajaan dan Tumpang Sari sebagai salah satu komoditas unggulan Kabupaten Dompu sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Di samping kopi robusta, kawasan Gunung Tambora juga masih mempertahankan budidaya kopi Arabika yang ditanam pada ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut.
Abdul Khair menyebut kualitas Arabika Tambora memiliki cita rasa yang sangat baik, bahkan mampu bersaing dengan kopi arabika dari daerah lain di Indonesia.
Namun demikian, pengembangan kopi Arabika tidak dapat dilakukan secara luas karena hanya beberapa lokasi yang memiliki karakteristik lahan yang sesuai. Kawasan tersebut merupakan areal perkebunan peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang dahulu pernah memiliki pabrik pengolahan kopi di lereng Gunung Tambora.
Meski menghadapi tantangan berupa penyusutan lahan dan perubahan iklim, Pemerintah Kabupaten Dompu optimistis Kopi Tambora masih memiliki masa depan yang cerah. Melalui program peremajaan, rehabilitasi lingkungan, dan penguatan industri hilir, kopi khas lereng Tambora diharapkan tetap menjadi ikon perkebunan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat di kawasan tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....