Dari Letusan Dahsyat Menuju Kopi Terbaik. Jejak Sejarah Perkebunan Kopi Tambora
- 11 Jul 2026 12:36 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Dompu – Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, tidak hanya dikenang sebagai gunung api dengan letusan paling dahsyat dalam sejarah modern, tetapi juga menjadi kawasan yang melahirkan salah satu kopi terbaik di Indonesia.
Di balik bencana besar yang mengguncang dunia pada tahun 1815, lereng Tambora kini menyimpan potensi perkebunan kopi yang telah berkembang sejak masa kolonial Belanda.
Letusan Gunung Tambora pada 10 April 1815 tercatat sebagai letusan gunung api terbesar dalam sejarah. Selain menewaskan puluhan ribu jiwa di Pulau Sumbawa akibat awan panas, tsunami, kelaparan, dan penyakit, dampak abu vulkaniknya menyebar hingga ke berbagai belahan dunia.
Abu vulkanik yang terlontar ke atmosfer menyebabkan perubahan iklim global. Eropa bahkan mengalami fenomena yang dikenal sebagai "The Year Without a Summer" atau tahun tanpa musim panas pada 1816.
Penurunan suhu ekstrem memicu gagal panen di berbagai negara dan disebut-sebut turut memengaruhi kondisi logistik Eropa pasca-Perang Napoleon.
Namun, di balik tragedi tersebut, letusan Tambora meninggalkan warisan berupa tanah vulkanik yang sangat subur.
Kesuburan inilah yang kemudian menarik perhatian investor asing untuk mengembangkan sektor perkebunan, terutama kopi.
Perkebunan kopi di lereng Gunung Tambora mulai dibangun oleh seorang pengusaha asal Swedia pada tahun 1932 setelah memperoleh izin dari Pemerintah Kolonial Belanda.
Saat itu, luas perkebunan mencapai sekitar 500 hektare yang berada di lembah bagian utara Gunung Tambora pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Kawasan tersebut merupakan lahan yang sebelumnya telah disiapkan sejak tahun 1813 oleh Raja Sanggar, Abdullah. Raja Abdullah dikenal sebagai satu-satunya penguasa lokal yang berhasil menyelamatkan diri bersama keluarganya ketika Gunung Tambora meletus pada tahun 1815.
Melihat potensi tanah vulkanik yang subur, pengusaha asal Swedia itu mengembangkan dua jenis kopi, yakni Robusta dan Arabika. Namun, kopi Arabika hanya dapat tumbuh optimal pada kawasan dengan ketinggian di atas 500 mdpl, sedangkan Robusta lebih luas dikembangkan di lereng Tambora.
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, perusahaan tersebut mendatangkan pekerja dari berbagai daerah, terutama dari Pulau Jawa.
Gelombang migrasi itu kemudian melahirkan sejumlah permukiman baru di kawasan lereng Tambora. Nama-nama kampung yang muncul pun banyak mengadopsi nama daerah asal para pekerja, seperti Sumber Urip dan Sumber Rejo, yang hingga kini masih dikenal masyarakat.
Pada tahun yang sama, Pemerintah Kolonial Belanda menerbitkan perjanjian konsesi usaha perkebunan kopi di Tambora sebagai dasar pengelolaan perusahaan tersebut.
Menjelang kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945, pengelolaan perkebunan kemudian dialihkan kepada perusahaan nasional NV Pasumah, yang merupakan singkatan dari nama para pemiliknya, yakni AM Pane, Subroto, dan Abdul Muluk.
Perusahaan tersebut berkantor pusat di Jakarta dan memiliki kantor cabang di Kabupaten Sumbawa. Pada tahun 1961, cabang perusahaan dipimpin Salam Hasan, putra Bupati Bima saat itu.
Namun, NV Pasumah hanya mampu bertahan hingga tahun 1968.
Setelah itu, pengelolaan perkebunan kopi Tambora diambil alih Pemerintah Daerah Kabupaten Bima pada periode 1968–1970. Selanjutnya, pada 1971–1973 pengelolaan dilakukan bersama PT Bayu Aji Bima Sena (BABS).
Sejak tahun 1974, PT BABS memperoleh Hak Guna Usaha (HGU) dan mengelola perkebunan secara mandiri hingga tahun 2001.
Perusahaan tersebut kemudian menghentikan operasinya dan meninggalkan sekitar 100 karyawan tanpa kejelasan kelanjutan usaha.
Selain mengembangkan perkebunan di wilayah yang kini masuk Kabupaten Bima, perusahaan asal Swedia juga membuka areal perkebunan kopi di wilayah Kabupaten Dompu.
Meski luasnya tidak sebesar di sisi timur Tambora, kawasan Desa Tambora, Kecamatan Pekat, hingga kini masih menjadi sentra kopi rakyat yang mempertahankan cita rasa khas kopi lereng Gunung Tambora.
Saat ini, Gunung Tambora berada di dua wilayah administrasi, yakni Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu.
Di kedua daerah tersebut, kopi tetap menjadi salah satu komoditas perkebunan unggulan yang terus dipertahankan melalui program peremajaan tanaman, pengembangan industri hilir, dan pelestarian kawasan hutan.
Kesuburan tanah vulkanik yang lahir dari letusan terbesar dalam sejarah itu kini menjadi berkah bagi masyarakat.
Dari lereng gunung yang pernah meluluhlantakkan peradaban, lahir kopi dengan cita rasa khas yang telah dikenal luas dan menjadi bagian penting dari sejarah serta identitas Tambora.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....