Kenaikan LPG 3 Kg Tekan Pedagang Kecil hingga Untung Menipis

  • 07 Apr 2026 18:03 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat – Kenaikan harga gas LPG 3 kilogram kembali dikeluhkan warga, khususnya pedagang kecil di wilayah Gerung, Lombok Barat. Lonjakan harga yang terjadi sejak awal April 2026 dinilai sangat memberatkan pelaku usaha mikro yang bergantung pada gas untuk aktivitas harian mereka.

Keluhan ini salah satunya disampaikan oleh Nurul Hikmah, seorang pedagang kecil yang membuka warung di deretan samping Kantor Inspektorat Lombok Barat. Ia mengungkapkan bahwa harga LPG 3 kg yang sebelumnya berada di kisaran Rp22 ribu kini naik menjadi Rp25 ribu per tabung.

“Kenaikan ini terasa sekali sejak awal April, dari biasanya Rp22 ribu sekarang jadi Rp25 ribu, mau tidak mau tetap harus beli untuk memasak air, memanaskan cilok, dan kebutuhan jualan lainnya,” ujar Nurul saat ditemui RRI di warung kopinya, Gerung, Lombok Barat, Selasa 7 April 2026.

Menurut Nurul, kondisi ini membuat pedagang kecil berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, biaya operasional meningkat, namun di sisi lain mereka tidak berani menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan.

“Ini sangat memberatkan kami pedagang kecil, kalau harga jual dinaikkan takut pembeli berkurang, tapi kalau tidak dinaikkan keuntungan jadi sangat tipis,” katanya menegaskan.

Ia menambahkan, dalam situasi seperti sekarang, para pedagang lebih memilih tetap bertahan dengan keuntungan minim demi menjaga pelanggan tetap datang.

“Yang penting dagangan tetap laku, walaupun untungnya tidak seberapa,” ucapnya.

Nurul juga berharap adanya perhatian dari pemerintah, khususnya melalui pengawasan terhadap pengecer yang diduga menaikkan harga di luar ketentuan. Ia meminta agar dilakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk menertibkan harga di tingkat bawah.

“Saya berharap ada sidak ke pengecer, jangan sampai mereka menaikkan harga seenaknya karena ini sangat memberatkan kami pedagang kaki lima,” katanya.

Lebih lanjut, ia menginginkan harga LPG 3 kg dapat kembali stabil seperti sebelumnya agar aktivitas usaha kecil dapat berjalan normal tanpa tekanan biaya yang tinggi.

“Kami hanya ingin harga kembali normal supaya bisa jualan seperti biasa, karena kalau harga di warung ikut naik, kami takut pembeli jadi sepi,” katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....