Muslimat NU Diminta Jadi Benteng Terakhir Keluarga di NTB

  • 06 Apr 2026 15:01 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Muslimat NU
  • Gubernur NTB

RRI.CO.ID, Mataram - Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal menempatkan perempuan sebagai titik tumpu peradaban sekaligus benteng terakhir ketahanan keluarga. Pesan itu disampaikan saat pelantikan Pimpinan Cabang Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) se-NTB di Hotel Lombok Raya, Minggu, 5 April 2026.

Di hadapan ratusan kader, Gubernur Lalu Muhamad Iqbal menyoroti posisi perempuan yang kerap dipandang domestik, tetapi justru menjadi pusat stabilitas psikologis keluarga. Ia menyebut laki-laki, dalam banyak hal, bergantung pada keteduhan yang dihadirkan perempuan.

“Secara fisik laki-laki mungkin lebih kuat, tetapi secara psikis perempuan jauh lebih kuat. Ibu-ibu adalah sumber keteduhan bagi suami, anak-anak, bahkan bagi peradaban kita,” kata Iqbal.

Acara yang dirangkaikan dengan peringatan Harlah ke-80 Muslimat Nahdlatul Ulama dan halal bihalal itu mengusung tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneduhkan Peradaban.” Tema tersebut, menurut Iqbal, bukan sekadar seremoni, melainkan respons atas tekanan modernisasi yang berpotensi menggerus nilai keluarga.

Ia mengingatkan, percepatan industrialisasi dan arus globalisasi telah membawa konsekuensi sosial yang tidak ringan. Di NTB, gejala itu terlihat dari meningkatnya pernikahan usia dini hingga peredaran narkoba yang menyasar generasi muda.

“Penjaga kedaulatan kita bukan hanya aparat. Muslimat NU adalah garda terdepan penjaga nilai-nilai keluarga. Jika mereka bergerak, separuh persoalan sosial di NTB bisa kita tekan,” ujarnya.

Iqbal bahkan menyinggung kampanye “Back to Family Value” yang pernah diusung Barack Obama sebagai bukti bahwa negara maju pun kembali bertumpu pada keluarga sebagai fondasi utama.

Sementara itu, Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa delapan dekade perjalanan organisasi harus dimaknai sebagai pijakan strategis menghadapi tantangan zaman. Ia menyebut Muslimat NU tidak cukup hanya menjaga tradisi, tetapi juga harus mandiri secara ekonomi dan adaptif terhadap perubahan.

“Muslimat NU harus terus menjadi penyejuk. Kemandirian ekonomi dan penguatan tradisi aswaja adalah benteng utama menghadapi gempuran budaya luar,” kata Khofifah.

Ia menambahkan, ancaman terhadap keluarga kini tidak lagi kasatmata, melainkan masuk melalui ruang privat rumah tangga lewat perangkat digital. “Keluarga adalah benteng pertama. Jika benteng ini rapuh, pertahanan bangsa ikut goyah. Peran ibu menjadi sangat vital,” ujarnya.

Pelantikan berlangsung khidmat dengan nuansa hijau khas Muslimat NU. Kehadiran dua tokoh nasional dan daerah itu sekaligus menjadi penegas arah baru: penguatan keluarga sebagai strategi sosial, bukan sekadar wacana moral, di tengah perubahan zaman yang kian tak terelakkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....