Manis Ekonomi Tebu di Beringin Jaya: Harapan yang Tumbuh di Sela Pengabaian

  • 30 Mar 2026 09:52 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu – Di bawah bayang-bayang Gunung Tambora, wajah Desa Beringin Jaya, Kecamatan Pekat, kini berubah drastis. Jika dahulu aroma jambu mete mendominasi udara, kini sejauh mata memandang hanya terlihat hamparan tebu yang menjulang.

Perubahan komoditas ini bukan sekadar tren, melainkan strategi bertahan hidup warga setelah tanaman mete mereka luluh lantak dihantam hama. Tebu kini menjadi napas baru bagi ekonomi lokal. Dengan julukan "tanaman petani malas" karena kemudahan perawatannya, tebu mampu memberikan pendapatan bersih Rp30 juta hingga Rp35 juta per hektare.

Hasilnya pun nyata. Puluhan warga berangkat umrah setiap tahun, akses pendidikan tinggi bagi anak-anak petani terbuka lebar, hingga lahirnya tokoh-tokoh politik baru di kursi DPRD Dompu.

Kepala Desa Beringin Jaya, Firman, mengungkapkan sistem pembayaran by name, by account langsung ke rekening petani menjadi kunci stabilitas.

Hal ini mencegah uang hasil panen habis seketika untuk membayar utang, berbeda dengan pola pada komoditas jagung.

Dampak sosialnya pun positif, di mana penyerapan tenaga kerja muda berhasil menekan angka kriminalitas di desa.

Namun, di balik kegemilangan tersebut, tersimpan getir yang dirasakan warga akibat minimnya dukungan pemerintah dan infrastruktur.

Jalan usaha tani yang buruk sering kali menghambat distribusi, bahkan memicu kegagalan panen karena akses yang terhalang lahan warga lain.

Pihak perusahaan pun dinilai masih menutup mata terhadap urgensi perbaikan akses jalan selama pasokan bahan baku ke pabrik tetap terjaga.

Kekecewaan paling dalam datang dari sektor birokrasi.

Firman menyebut bantuan bibit dan pupuk dari pemerintah sering kali tidak sampai ke tangan petani, sementara program bantuan sosial kerap dianggap hanya sekadar seremoni dokumentasi tanpa realisasi nyata di lapangan.

"Program yang seharusnya menopang justru menguap," tegasnya, Senin 30 Maret 2026 menyoroti betapa desa seolah berjuang sendiri sebagai garda terdepan.

Senada dengan hal itu, Koordinator PPL Kecamatan Pekat, Mukhtar, melihat adanya kesenjangan antara potensi dan dukungan nyata.

Meski Dompu berstatus kawasan tebu nasional, luas lahan kemitraan saat ini baru mencapai 3.200 hektare, masih jauh dari target ideal 10–11 ribu hektare untuk optimalisasi industri gula.

Masalah klasik seperti keterbatasan alat mesin pertanian (traktor) dan sulitnya akses kredit perbankan bagi petani pemula masih menjadi tembok besar.

Keberhasilan Beringin Jaya saat ini adalah bukti ketangguhan lokal. Namun, untuk mewujudkan ambisi Dompu sebagai lumbung gula nasional, kerja keras petani saja tidak cukup.

Dibutuhkan sinergi jujur antara kebijakan pemerintah, komitmen perusahaan, dan kebutuhan riil masyarakat desa agar manisnya industri tebu tidak hanya dirasakan oleh sebagian pihak, tetapi merata hingga ke akar rumput.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....