Mataram Hadirkan "Topat Agung" saat Lebaran Topat

  • 27 Mar 2026 18:53 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Pemerintah Kota Mataram menghadirkan konsep berbeda dalam perayaan puncak Lebaran Topat 2026 dengan menyiapkan “Topat Agung”, sebuah gunungan ketupat yang menjadi simbol syukur sekaligus daya tarik utama bagi masyarakat di kawasan Loang Baloq, Kecamatan Sekarbela, Sabtu 28 Maret 2026.

Sebanyak 400 ketupat disusun dalam bentuk gunungan dan dilengkapi aneka lauk pauk seperti opor, urap, hingga sate. Tradisi ini tidak hanya menjadi sajian kuliner, tetapi juga sarat makna filosofis sebagai bentuk penyucian diri setelah menjalani ibadah puasa Ramadan dan puasa Syawal selama enam hari.

Camat Sekarbela, Arif Satriawan, menjelaskan bahwa persiapan Topat Agung telah mencapai tahap akhir dengan melibatkan kader masyarakat setempat. Ia menegaskan bahwa kehadiran Topat Agung menjadi bagian penting dalam menjaga nilai budaya sekaligus memperkuat kebersamaan warga.

“Topat Agung kami desain dengan bentuk menarik. Ini bukan sekadar makanan, tetapi simbol kebersamaan, rasa syukur, dan tradisi yang terus kita jaga,” ujarnya.

Perayaan Lebaran Topat tahun ini mengusung tema “Berkat Topat Lebaran” dan akan dimulai sejak pukul 07.00 Wita dengan tradisi ziarah makam. Selanjutnya, seremoni utama digelar pukul 08.30 Wita yang ditandai dengan pembelahan Topat Agung sebagai simbol dimulainya puncak perayaan.

"Nanti ketupatnya dibagikan kepada masyarakat dan dilakukan dengan tradisi “bejuretan” atau berebut ketupat yang menjadi salah satu bagian paling dinantikan warga." Katanya.

Sebagian masyarakat meyakini bahwa mendapatkan Topat Agung membawa keberkahan dalam kehidupan. Kepercayaan ini turut memperkuat antusiasme masyarakat yang hadir setiap tahunnya.Lebih dari sekadar tradisi, Lebaran Topat juga menjadi ruang silaturahmi antarwarga untuk saling memaafkan dan mempererat hubungan sosial.

"Nilai-nilai tersebut diharapkan terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya saat perayaan berlangsung." Ujarnya.

Selain prosesi religi, rangkaian acara juga akan dimeriahkan dengan pementasan seni tari tradisional dan religi pada pagi hari, serta pertunjukan budaya “Presean” pada sore hari sebagai hiburan rakyat.

"Ini salah satu cara kami melestarikan tradisi masyarakat Sasak di tengah perkembangan zaman." Pungkasnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....