MICE dan UMKM: Jalan NTB Membangun Pariwisata Berkelanjutan

  • 22 Feb 2026 14:27 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Di Nusa Tenggara Barat (NTB), ruang rapat dan garis pantai kini bertaut lebih erat. Dari ballroom hotel hingga bibir Pantai Mandalika, denyut pariwisata bergerak dalam satu irama: event, kunjungan, dan perputaran ekonomi lokal.

Pemerintah Provinsi NTB menempatkan sektor MICE (meeting, incentive, convention, exhibition) sebagai instrumen utama mendongkrak kualitas pariwisata. Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyebut strategi ini bukan semata mengejar angka kunjungan, melainkan memperpanjang lama tinggal dan memperbesar belanja wisatawan.

“Kita ingin pariwisata NTB naik kelas. MICE adalah instrumen strategis untuk mendatangkan wisatawan berkualitas dan menggerakkan ekonomi lokal,” ujar Iqbal.

Dalam tahun pertama kepemimpinan Iqbal–Indah, kalender event NTB padat. Di kawasan Mandalika, ajang MotoGP Indonesia kembali digelar.

Festival Olahraga Masyarakat Nasional (Fornas) VIII menyedot ribuan peserta dari berbagai provinsi. Event lari Pocari Sweat Run Lombok menghadirkan lebih dari 9.000 pelari. Sementara tradisi Bau Nyale Festival tetap menjadi jangkar budaya yang menyatukan kearifan lokal dan daya tarik wisata.

Pemerintah daerah memadukan agenda-agenda tersebut dengan paket wisata pra dan pasca-event. Desa wisata, pelaku ekonomi kreatif, dan UMKM dilibatkan dalam rantai kegiatan. Targetnya jelas: multiplier effect.

Data Badan Pusat Statistik NTB mencatat tingkat hunian kamar hotel bintang pada Oktober 2025 mencapai 43,51 persen, dengan lebih dari 120 ribu tamu menginap dalam satu bulan. Rata-rata lama tinggal mendekati dua hari indikasi bahwa peserta event tak sekadar hadir untuk forum, tetapi turut menikmati destinasi.

Dampak paling nyata terlihat saat penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025, bagian dari kalender MotoGP. Sepanjang akhir pekan balapan, jumlah penonton menembus 140 ribu orang. Okupansi hotel di zona Mandalika dilaporkan penuh, sementara perputaran ekonomi ditaksir mencapai Rp4,8 triliun. Hotel, transportasi, konsumsi, hingga UMKM kerajinan dan kuliner ikut terdongkrak.

Fornas VIII menghadirkan lebih dari 18 ribu peserta dari 38 provinsi. Perputaran ekonomi diperkirakan melampaui Rp800 miliar, dengan ribuan tenaga kerja lokal terlibat. Pusat ritel di Mataram mencatat lonjakan kunjungan, sementara pelaku usaha kecil melaporkan peningkatan pendapatan signifikan selama periode kegiatan.

Bagi pemerintah provinsi, keberhasilan tak berhenti pada angka transaksi. Sejak 2025, konsep pariwisata berkelanjutan mulai diterapkan lebih sistematis. Sejumlah venue MICE mengurangi plastik sekali pakai, menggunakan produk lokal dalam konsumsi acara, serta melibatkan komunitas desa wisata dalam rangkaian kegiatan.

Di kawasan Gili dan pesisir selatan Lombok, kampanye kebersihan laut dan pengelolaan sampah berbasis komunitas semakin masif.

Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid mencatat tren peningkatan penumpang menjelang akhir tahun, seiring bertambahnya event internasional dan promosi destinasi hijau NTB.

Pasar domestik tetap menjadi tulang punggung, namun wisatawan mancanegara mulai menunjukkan pertumbuhan.

Iqbal menekankan, MICE bukan sekadar strategi promosi. “Target kita bukan sekadar ramai. Setiap kegiatan harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” katanya.

Di tengah kompetisi destinasi nasional, NTB menempatkan diri sebagai laboratorium pariwisata berkelanjutan: tempat pertemuan bisnis, olahraga, dan budaya berpadu dengan komitmen lingkungan. Dari ruang konferensi hingga warung kecil di sudut desa, denyut ekonomi mengalir mengikuti irama event.

Pariwisata, di NTB, tak lagi hanya soal panorama. Ia menjadi soal bagaimana panggung global terhubung dengan dapur-dapur UMKM dan bagaimana pertumbuhan tak meninggalkan jejak kerusakan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....