BBRMP NTB Tekankan Teknologi untuk Swasembada Pangan
- 11 Feb 2026 07:08 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID., Mataram - Pemerintah terus mendorong penerapan teknologi pertanian yang realistis dan langsung menyentuh kebutuhan petani. Fokus utama saat ini bukan semata peningkatan produksi, tetapi menjaga kesinambungan swasembada pangan nasional melalui penguatan komoditas strategis daerah.
Kepala Besar Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBRMP) NTB Kementerian Pertanian, Hendro Cahyono, menegaskan teknologi pertanian yang diterapkan harus selaras dengan program unggulan pemerintah, khususnya dalam menjaga produktivitas padi dan memperkuat kemandirian pangan.
“Bicara peningkatan produktivitas padi dan mempertahankan swasembada pangan, ada beberapa komponen teknologi yang harus kita dorong dan kita pertahankan yang sudah ada,” kata Hendro saat ditemui RRI di kantor BBRMP NTB, Narmada, Lombok Barat, Selasa, 10 Februari 2026.
Ia menjelaskan, salah satu fokus nasional yang kini menjadi prioritas di Nusa Tenggara Barat adalah swasembada benih bawang putih. Program ini telah dicanangkan langsung oleh Menteri Pertanian sebagai langkah strategis mengurangi ketergantungan impor.
“Pak Menteri sudah mencanangkan bahwa kita harus swasembada benih bawang putih. Ini produk lokal unggulan dari Sembalun dan menjadi kebanggaan Indonesia,” ucap Hendro.
Menurutnya, kebijakan tersebut disertai arahan tegas agar produksi bawang putih lokal tidak dikonsumsi terlebih dahulu, melainkan seluruhnya diarahkan sebagai benih hingga target swasembada tercapai.
“Statement beliau jelas, sampai tahun 2029 kita harus memastikan swasembada benih bawang putih. Untuk sementara tidak dikonsumsi dulu, semuanya dijadikan benih,” ujarnya.
Hendro menilai, kebijakan ini menuntut kerja keras dan inovasi berkelanjutan, terutama dalam percepatan intensifikasi produksi. NTB, khususnya kawasan Sembalun, dinilai memiliki posisi strategis karena kualitas bawang putihnya yang diakui secara nasional.
“Kalau soal harga, kita memang belum bisa bersaing dengan produk luar. Tapi dari sisi kualitas, bawang putih Sembalun lebih pedas, lebih kuat rasanya, dan lebih hemat untuk bumbu. Ini keunggulan kita,” katanya.
Ia menambahkan, serapan bawang putih lokal sejauh ini sudah berjalan cukup baik. Namun tantangan utama masih terletak pada peningkatan produktivitas agar Indonesia benar-benar terbebas dari ketergantungan impor, yang saat ini masih didominasi produk asal Tiongkok.
“Masalah utama kita sekarang adalah kekurangan benih. Karena itu pemerintah mendorong swasembada benih dulu. Untuk konsumsi, impor masih diperbolehkan sementara, tapi produksi dalam negeri kita fokuskan sepenuhnya untuk benih sampai 2029,” ujar Hendro.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....