Sisa Nasi MBG Sekolah Diolah Jadi Makanan Laris Bernilai Ekonomi
- 04 Feb 2026 14:56 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID., Lombok Barat - Upaya mengurangi limbah makanan sekaligus menumbuhkan jiwa wirausaha dilakukan salah satu sekolah di Lombok Barat melalui inovasi sederhana namun berdampak nyata. Sisa nasi dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sebelumnya kerap tidak habis dikonsumsi siswa, kini diolah kembali menjadi produk pangan bernilai jual tinggi berupa pempek nasi udang rebon.
Inovasi tersebut digagas oleh guru agribisnis pengolahan hasil pertanian SMKPP, Hidayati. Ia menjelaskan pemanfaatan sisa nasi MBG awalnya diarahkan pada produksi rengginang. Namun kondisi cuaca memaksa pihak sekolah mencari alternatif lain yang justru menghasilkan peluang ekonomi lebih besar.
“Sebelumnya kami memanfaatkan nasi MBG yang tidak habis dimakan siswa untuk dibuat rengginang. Karena terkendala musim hujan, akhirnya kami beralih ke pempek nasi udang rebon dan ternyata peminatnya luar biasa,” kata Hidayati saat ditemui RRI di sekolahnya, Selasa, 3 Februari 2026.
Menurut Hidayati, pempek berbahan dasar nasi sisa tersebut dipadukan dengan udang rebon, tepung tapioka, serta pelengkap kuah cuko berbahan gula merah dan irisan timun. Meski menggunakan bahan sederhana, produk ini mampu mencatat omzet harian yang signifikan.
“Per hari omzetnya bisa tembus sampai lima ratus ribu rupiah hanya dari pempek nasi udang rebon. Selain murah, rasanya juga enak dan sangat diminati,” ucapnya.
Ia menambahkan, harga jual pempek tersebut terbilang terjangkau. Satu kemasan dijual seharga Rp9.000 berisi dua pempek lenjer dan dua kapal selam mini. Dalam satu hari, produksi bisa mencapai lebih dari 50 kemasan, bahkan meningkat saat permintaan tinggi.
“Kalau dihitung bisa lebih dari lima puluh mika per hari. Penjualannya dilakukan secara online dan offline. Ada pelanggan yang datang langsung, ada juga yang kami kirim menggunakan kurir,” tuturnya.
Tak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan sekolah, program ini juga memberi manfaat langsung bagi para siswa. Mereka dilibatkan dalam proses produksi hingga pemasaran, sehingga memperoleh pengalaman kewirausahaan sejak dini.
“Minat siswa sangat luar biasa. Keuntungan usaha ini juga mereka rasakan. Untuk sekadar uang belanja, mereka tidak perlu meminta ke orang tua karena bisa dari usaha di sekolah,” ujarnya.
Hidayati berharap inovasi ini dapat menginspirasi masyarakat luas agar tidak lagi membuang nasi sisa di rumah. Dengan kreativitas dan kemauan, bahan yang dianggap tidak bernilai justru bisa menjadi sumber penghasilan baru.
“Harapannya ini bisa bermanfaat untuk anak-anak dan masyarakat. Nasi sisa tidak perlu dibuang, tapi bisa diolah seperti pempek nasi udang rebon yang kami produksi di sini,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....