Produksi Padi NTB 2025 Naik Signifikan, Jagung Alami Penurunan
- 02 Feb 2026 15:01 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat produksi padi pada tahun 2025 mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini sejalan dengan bertambahnya luas panen serta berbagai dukungan kebijakan pemerintah di sektor pertanian.
Berdasarkan data BPS, luas panen padi di NTB pada 2025 mencapai 322,90 ribu hektare, meningkat 41,18 ribu hektare atau 14,62 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar 281,72 ribu hektare. Seiring dengan itu, produksi padi juga meningkat menjadi 1,71 juta ton gabah kering giling (GKG), naik 255,21 ribu ton atau 17,56 persen dibandingkan produksi tahun 2024 yang sebesar 1,45 juta ton GKG.
Ketua Tim Statistik Harga BPS Provinsi NTB, Ir. Muhammad Ahyar, menjelaskan bahwa peningkatan produksi padi tersebut terutama didorong oleh bertambahnya luas areal tanam dan meningkatnya frekuensi tanam petani.
“Kenaikan produksi padi pada 2025 sangat dipengaruhi oleh meningkatnya luas panen sekitar 41,18 ribu hektare. Bantuan pompa air dari pemerintah berperan besar dalam memperluas areal tanam sekaligus meningkatkan intensitas tanam padi di berbagai wilayah NTB,” ujar Ahyar, Senin 2 Februari 2026.
Selain itu, produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk pada 2025 tercatat mencapai 973,14 ribu ton, meningkat 145,36 ribu ton atau 17,56 persen dibandingkan produksi beras tahun 2024 yang sebesar 827,79 ribu ton.
Menurut Ahyar, faktor lain yang turut mendorong peningkatan produksi padi adalah bertambahnya alokasi bantuan pupuk, penggunaan varietas benih unggul di sejumlah sentra produksi, serta adanya penyesuaian Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah kering panen.
“Kebijakan penyesuaian HPP gabah kering panen menjadi Rp6.500 per kilogram memberikan insentif yang lebih baik bagi petani. Hal ini berdampak positif terhadap semangat produksi dan pengelolaan usaha tani padi,” tambahnya.
Sementara itu, kondisi berbeda terjadi pada komoditas jagung. BPS mencatat luas panen jagung pipilan pada 2025 mencapai 173,09 ribu hektare, mengalami penurunan 0,67 ribu hektare atau 0,39 persen dibandingkan tahun 2024. Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen juga turun menjadi 1,18 juta ton, atau menurun 34,63 ribu ton (2,86 persen) dibandingkan produksi 2024 yang mencapai 1,21 juta ton.
Ahyar menjelaskan bahwa penurunan produksi jagung disebabkan oleh berkurangnya luas panen serta faktor cuaca.
“Cuaca pada 2025 relatif lebih mendukung untuk penanaman padi, sehingga sebagian lahan jagung dialihkan menjadi lahan padi. Selain itu, curah hujan yang lebih tinggi berdampak pada penurunan produktivitas jagung karena tanaman ini tidak membutuhkan terlalu banyak air. Kondisi tersebut menyebabkan pertumbuhan tanaman kurang optimal,” jelasnya.
Untuk ke depan, BPS memperkirakan potensi luas panen jagung pipilan kering pada periode Januari–Maret 2026 mencapai 80,93 ribu hektare, dengan potensi produksi sekitar 0,56 juta ton jagung pipilan kering kadar air 14 persen.
BPS Provinsi NTB berharap data ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pertanian yang berimbang antara peningkatan produksi padi dan keberlanjutan produksi jagung di NTB.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....