Kontrol Emosi Lemah Bisa Picu Tindakan Kekerasan Fatal

  • 31 Jan 2026 20:04 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Tindakan pembunuhan sering kali berawal dari emosi yang tidak terkendali. Ledakan marah yang memuncak membuat seseorang kehilangan kendali atas perilakunya.

Psikolog Klinis BNNP NTB, Wahyu Hasni Ilmi, menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan cara kerja otak manusia. Saat marah ekstrem, bagian otak yang mengatur logika tidak berfungsi optimal.

Ia menyebut respons yang muncul biasanya bersifat naluriah, yakni menyerang atau menghindar. Pilihan diambil secara impulsif tanpa memikirkan dampak jangka panjang.

“Dalam situasi itu, seseorang tahu tindakannya salah, tetapi kontrol dirinya sudah sangat lemah,” jelas Wahyu, Sabtu 31 Januari 2026.

Menurutnya, pembunuhan jarang terjadi tanpa latar belakang masalah yang menumpuk. Konflik rumah tangga, tekanan sosial, hingga rasa dendam dapat menjadi pemicu.

Ia menilai masalah yang tidak diselesaikan cenderung menumpuk menjadi tekanan emosional. Ketika batas kesabaran terlampaui, ledakan emosi bisa terjadi.

Karena itu, Wahyu menekankan pentingnya menyelesaikan konflik sedini mungkin. Komunikasi terbuka menjadi langkah awal meredakan ketegangan.

“Jangan biarkan masalah dipendam, karena emosi yang menumpuk bisa berubah menjadi tindakan yang tidak terkendali,” katanya.

Ia juga mendorong masyarakat membiasakan tiga ungkapan sederhana dalam hubungan sosial. Meminta maaf, meminta tolong, dan berterima kasih dinilai membantu menjaga hubungan tetap sehat.

Langkah tersebut terlihat sederhana, tetapi berdampak besar dalam meredakan konflik. Hubungan yang hangat mengurangi potensi pertikaian.

Wahyu menilai dukungan tokoh masyarakat dan tenaga profesional penting saat konflik sulit diselesaikan sendiri. Bantuan pihak ketiga bisa mencegah masalah berkembang.

Ia mengingatkan bahwa kekerasan sering kali muncul dari akumulasi masalah kecil yang diabaikan. Pencegahan harus dimulai dari hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

“Menjaga hubungan baik adalah benteng awal agar emosi tidak berkembang menjadi tindakan fatal,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....