Psikolog Nilai Remaja Awal Paling Rentan Terpengaruh Konten Media Sosial
- 29 Mei 2026 17:57 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Remaja awal disebut menjadi kelompok usia yang paling rentan terpengaruh oleh konten media sosial. Psikolog Klinis BNNP NTB, Wahyu Hasni Ilmi, mengatakan fase pubertas merupakan masa ketika anak mulai mencari jati diri dan cenderung mudah meniru lingkungan sekitarnya.
Penggunaan media sosial yang semakin luas pada kalangan remaja dinilai perlu mendapat perhatian khusus. Sebab, banyak remaja yang belum memiliki kemampuan matang untuk menyaring informasi maupun tren yang muncul di internet.
“Usia remaja awal adalah masa badai dalam perkembangan manusia. Pada fase itu anak ingin mencoba banyak hal dan mudah meniru apa yang dilihat,” ungkapnya, Jumat 29 Mei 2026.
Ia menjelaskan secara psikologis usia remaja awal berada pada rentang sekitar 10 hingga 16 tahun. Pada fase tersebut, anak mulai mengalami perubahan emosi, perkembangan identitas diri, dan peningkatan rasa ingin tahu.
Kondisi tersebut membuat remaja lebih mudah terpengaruh oleh konten yang mereka konsumsi di media sosial. Bahkan, remaja sering kali belum mampu mempertimbangkan dampak negatif dari perilaku yang ditiru.
“Kadang anak melakukan sesuatu hanya karena merasa itu bisa meningkatkan harga dirinya. Padahal dia belum memahami dampak buruk dari tindakan tersebut,” katanya.
Menurut Wahyu, media sosial saat ini memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan pola pikir dan perilaku remaja. Karena itu, pembatasan usia dalam penggunaan media sosial dinilai penting untuk melindungi anak dari paparan konten yang tidak sesuai.
Ia mengatakan remaja membutuhkan pendampingan agar tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya sumber validasi diri. Interaksi sosial di lingkungan nyata tetap diperlukan dalam proses pembentukan karakter.
“Remaja perlu diarahkan supaya tidak mencari pengakuan hanya dari media sosial. Mereka tetap membutuhkan interaksi sehat dengan keluarga dan lingkungan,” jelasnya.
Selain pengawasan keluarga, Wahyu juga menilai sekolah memiliki peran penting dalam memberikan edukasi literasi digital kepada siswa. Pemahaman tentang penggunaan internet yang sehat perlu diajarkan sejak dini.
Ia menilai literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi. Anak juga harus dibekali kemampuan berpikir kritis terhadap informasi dan tren yang berkembang di media sosial.
“Anak harus diajarkan bagaimana menyaring informasi dan memahami dampak dari apa yang mereka lihat di internet,” katanya, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....