Psikolog Jelaskan Perbedaan Psikologis Bunuh Diri Dan Pembunuhan

  • 31 Jan 2026 19:57 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Maraknya kasus bunuh diri dan pembunuhan belakangan ini memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Meski sama-sama berujung pada hilangnya nyawa, kedua peristiwa ini memiliki latar belakang psikologis yang berbeda.

Psikolog Klinis BNNP NTB, Wahyu Hasni Ilmi, menegaskan bahwa bunuh diri dan pembunuhan tidak bisa disamakan dari sisi pemicu emosionalnya. Menurutnya, bunuh diri lebih banyak dipicu perasaan putus asa yang diarahkan pada diri sendiri.

Ia menjelaskan seseorang yang terlihat baik-baik saja belum tentu berada dalam kondisi mental yang stabil. Banyak individu mampu menyembunyikan kesedihan mendalam di balik sikap tenang.

“Orang bisa tampak kuat di luar, tetapi di dalamnya merasa hampa, tidak ada harapan, dan itu berlangsung terus-menerus,” ujarnya, Sabtu 31 Januari 2026.

Kondisi tersebut membuat seseorang kehilangan makna hidup meskipun memiliki keluarga atau pekerjaan. Rasa hampa yang tidak tersalurkan dapat berkembang menjadi keinginan mengakhiri hidup.

Berbeda dengan bunuh diri, pembunuhan biasanya dipicu luapan emosi yang diarahkan kepada orang lain. Perasaan marah, dendam, atau merasa terancam menjadi faktor dominan.

Wahyu menjelaskan dalam situasi emosi memuncak, bagian otak yang mengatur logika tidak bekerja optimal. Sebaliknya, bagian otak yang memicu reaksi emosional justru lebih aktif.

“Dalam kondisi marah ekstrem, kontrol diri menurun sehingga orang bertindak tanpa mempertimbangkan akibatnya,” katanya.

Ia menambahkan pada momen tersebut seseorang cenderung bereaksi dengan naluri bertahan atau menyerang. Keputusan diambil secara impulsif, bukan melalui pertimbangan rasional.

Fenomena ini membuat pelaku pembunuhan kerap bertindak di luar kesadaran logisnya. Meski tahu perbuatannya salah, dorongan emosi lebih dominan.

Menurutnya, memahami perbedaan psikologis ini penting agar masyarakat tidak menyederhanakan penyebab kekerasan. Setiap kasus memiliki dinamika emosional yang kompleks.

Ia menilai kesadaran akan kesehatan mental perlu ditingkatkan di berbagai lapisan masyarakat. Pemahaman ini membantu mencegah kesalahpahaman terhadap perilaku seseorang.

“Masalah kesehatan mental bukan tanda kelemahan, tetapi kondisi yang perlu dipahami dan ditangani dengan tepat,” tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....