Lombok Barat Darurat Sampah, Simak Tips Kelola Sampah
- 30 Jan 2026 22:01 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Kondisi lingkungan di Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah berada di titik yang mengkhawatirkan. Setiap harinya, bumi NTB dibebani oleh sekitar 2700 ton sampah. Tanpa langkah kreatif, NTB diprediksi akan semakin tenggelam dalam permasalahan sampah yang terus menumpuk.
Peringatan dari TPA yang Kian Sesak
Situasi ini memaksa pemerintah mengambil langkah tegas. Sekretaris Dinas LHK Provinsi NTB, Syamsiah Samad, S.Hut., M.Si, mengungkapkan kegelisahannya terkait penumpukan sampah di wilayah metropolitan Lombok yang sudah dalam tahap mengkhawatirkan.
"Di Kota Mataram saja, sampah mencapai 350 ton sehari, sedangkan di Lombok Barat antara 150 sampai 200 ton. Masalahnya, TPA kita semua sudah penuh," ujar Syamsiah dengan nada serius dalam wawancara bersama RRI di Dialog TB Pagi, Rabu 28 Januari 2026.
Penetapan Kabupaten Lombok Barat sebagai wilayah Darurat Sampah oleh pemerintah pusat menjadi pengingat bagi semua pihak. Menurut Syamsiah, status ini bukan sekadar administratif, melainkan sebuah peringatan agar masyarakat tidak lagi merasa "aman-aman saja". Ia menegaskan bahwa urusan sampah adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya pemerintah.

Aisyah Odist, Pendiri Bank Sampah NTB Mandiri (kiri) dan Syamsiah Samad, S.Hut., M.Si, Sekretaris Dinas LHK Provinsi NTB( tengah)
Peluang Cuan di Tengah Krisis
Menariknya, di balik gunungan limbah tersebut, tersimpan potensi ekonomi yang luar biasa. Berdasarkan Peta Jalan Ekonomi Sirkular, sentuhan kreatif pada sampah plastik dapat meningkatkan nilai jualnya hingga 500 persen.
Langkah ini juga menjadi penyelamat iklim yang nyata. Mengolah satu ton sampah plastik secara kreatif setara dengan mencegah emisi 1,5 ton karbon dioksida (CO2) ke atmosfer. Semangat ini selaras dengan program NTB Zero Waste yang mengandalkan peran rumah tangga sebagai kunci utama pengurangan sampah di hulu.
Trik Produk Lokal Tembus Pasar Dunia
Aisyah Odist, pelopor Bank Sampah NTB Mandiri yang sukses membawa produk olahan sampah ke pasar internasional, berbagi pandangan agar karya lokal tak kalah saing dengan merek luar negeri.
Menurut Aisyah, kunci utamanya adalah riset pasar. "Kita beruntung tinggal di daerah wisata. Masyarakat bisa menjadi produsen dan wisatawan adalah konsumennya. Tapi kita harus tahu tren dunia, apa yang sedang diminati di luar negeri," jelasnya.
Berikut tips dan agar produk daur ulang dilirik buyer luar negeri:
- Intip Tren Global: Jangan membuat produk asal-asalan. "Kita harus paham trend setter dunia. Kalau main di fashion, pelajari gaya yang sedang diminati di luar negeri," saran Aisyah.
- Targetkan Wisatawan: Di Lombok, pasar sudah ada di depan mata. Posisikan wisatawan sebagai konsumen utama yang mencari produk dengan nilai filosofis dan ramah lingkungan.
- Kualitas di Atas Segalanya: Produk harus punya fungsi nyata dan estetika tinggi. Jangan sampai kalah saing dengan label luar negeri. Kreativitas adalah kunci agar limbah tak berakhir sia-sia.
- Kuasai Jalur Pemasaran: Memahami ke mana produk akan dijual jauh lebih penting daripada sekadar memproduksinya dalam jumlah banyak.
Ia mengingatkan agar para pegiat lingkungan tidak sekadar membuat produk tanpa tujuan. "Harus ada ide kreatif agar produk itu fungsional dan punya nilai ekonomi. Kita perlu tahu keinginan pasar, sehingga apa yang kita hasilkan tidak menjadi sia-sia," ungkap Aisyah.
Krisis sampah di Lombok Barat adalah panggilan untuk berubah. Melalui kolaborasi antara kebijakan pemerintah dan kreativitas masyarakat, sampah tidak lagi menjadi beban, melainkan aset berharga yang mampu mengharumkan nama NTB di kancah dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....