Warga Perbukitan Lobar Bangkitkan Ketahanan Pangan dari Pekarangan Rumah

  • 29 Jan 2026 18:34 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID., Lombok Barat - Ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari lahan luas dan anggaran besar. Di Lombok Barat, langkah kecil dari pekarangan rumah justru mulai menunjukkan harapan besar bagi kemandirian pangan masyarakat.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan Lombok Barat, Afgan Kusumanegara, menegaskan upaya memperkuat pangan keluarga dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan sempit melalui budidaya ikan dan penanaman sayur di sekitar rumah.

Menurutnya, kondisi geografis Lombok Barat yang sebagian wilayahnya merupakan daerah perbukitan tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk tetap produktif. Salah satu solusi yang terus didorong ialah pemanfaatan kolam terpal bagi warga yang tidak memiliki akses air mengalir.

“Untuk bibit lele, kami sudah menyalurkan sebanyak 600 ekor. Kebetulan menggunakan kolam terpal, jadi meskipun lahannya terbatas, tetap bisa dimanfaatkan dengan maksimal,” kata Afgan saat ditemui RRI di lokasi Gegerung saat memberikan bibit ikan, Kamis 29 Januari 2026.

Afgan menekankan kunci utama dari program ini bukan semata bantuan pemerintah, melainkan kemauan masyarakat itu sendiri. Ketika ada niat dan kesungguhan, pemerintah siap hadir memberi dukungan berupa bibit ikan maupun bibit sayuran.

Ia mencontohkan inisiatif warga Dusun Orong Puncak, Desa Gegerung, Kecamatan Lingsar, yang berencana membangun konsep “gang sayur”. Menurutnya, langkah tersebut sangat inspiratif dan berpotensi menjadi percontohan pemanfaatan pekarangan bagi masyarakat sekitar.

“Gang sayur itu keren sekali. Ini bisa jadi contoh bagaimana pekarangan rumah dimanfaatkan secara nyata untuk mendukung ketahanan pangan keluarga,” ucapnya.

Lebih jauh, Afgan menjelaskan program ini memiliki dampak langsung terhadap ekonomi rumah tangga. Ketika harga bahan pokok melonjak, masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasar karena sebagian kebutuhan sayur bisa dipetik dari halaman sendiri.

“Setidaknya tidak banyak mengeluarkan uang. Sayurnya bisa dipetik di sekitar rumah,” ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar mulai mencoba budidaya terpadu antara ikan dan tanaman sayur. Kolam terpal berukuran satu kali empat meter atau satu kali dua meter dinilai sudah cukup untuk menampung sekitar 600 bibit lele.

Kolam tersebut dapat diintegrasikan dengan tanaman cabai, tomat, terong, bayam, maupun jenis sayuran lainnya, sehingga menciptakan sistem pangan rumah tangga yang berkesinambungan.

Himbauan ini, lanjut Afgan, tidak hanya ditujukan untuk satu wilayah. Pemerintah daerah mendorong penerapannya di seluruh kecamatan, selama ada kemauan kuat dari masyarakat.

“Kalau masyarakat sudah membuktikan dengan membuat kolam dan mengirimkan foto kepada kami, itu artinya ada kesungguhan. Di situ pemerintah akan hadir memberi dukungan,” jelasnya.

Untuk hasil budidaya, prioritas utama diarahkan pada konsumsi rumah tangga. Namun apabila produksinya berlebih, ikan maupun sayuran dapat dijual atau dibagikan kepada tetangga.

Tak hanya itu, program ini juga diharapkan membantu keluarga yang memiliki anak stunting. Faktor ekonomi masih menjadi penyebab utama, sehingga pemanfaatan pekarangan dinilai sebagai langkah konkret untuk memperbaiki asupan gizi keluarga.

“Kami berharap orang tua yang memiliki anak stunting bisa berupaya menanam sayur, memelihara ikan, atau ternak seperti itik dan ayam,” katanya.

Afgan menegaskan program ini tidak berhenti di satu lokasi. Setelah sebelumnya dilaksanakan di wilayah Batulayar, kini berlanjut di Gunungsari dan akan terus diperluas ke daerah lain.

“Yang penting ada kemauan dari masyarakat. Kalau itu ada, pemerintah siap mendampingi,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....